definitely, poems paling berkesan adalah…
“Tak Sepadan” (Chairil Anwar-Februari 1943)
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
lalu…
“Seperti apa terbebas dari dendam derita” (Joko Pinurbo-2006)
Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan dari cengkeraman luka.
dan
“Penerimaan” (Chairil Anwar-Maret 1943)
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
“Cintaku jauh di pulau” (Chairil Anwar-1946)
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin yang mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
dan beberapa puisi bapak Sapardhi Djoko Damono (masih proses loading-mengingat-collecting, jadi sabarrr…)
*updated*
untuk puisi bapak Sapardi Djoko Damono, aku lebih suka nokturno dibanding aku ingin
.
“Nokturno” (Sapardi Djoko Damono)
Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
Entah kapan kau bisa kutangkap.
“Aku ingin” (Sapardi Djoko Damono)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat:
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat:
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
“Hujan, Jalak dan Daun Jambu” (Sapardi Djoko Damono)
Hujan turun semalaman. paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba
tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia.
(note: satu puisi di atas ini indah ya? sederhana tapi tajam. tidak mengajak melayang terbang tapi dalam maknanya. bahkan kesederhanaan dan kelumrahan pun bisa sedemikian besar maknanya
)
“Hujan di Bulan Juni” (Sapardi Djoko Damono)
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(note: kenapa aku ngilu setiap denger puisi ini ya? ngilu dan takjub untuk pengorbanan sebesar si hujan bulan juni ini.
)
“Si Telaga” (Sapardi Djoko Damono)
akulah si Telaga
berlayarlah di atasnya
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menyerakkan bunga-bunga pantai
berlayarlah sambil memandang harunya cahaya
sesampai di seberang sana
tinggalkan begitu saja perahumu
biar aku yang menjaganya
(note: kalo denger puisi ini, er……mupeng aja. pingin punya telaga sendiri
)
“Cinta Telah Tiba” (Joko Pinurbo, 2006)
Cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu.
Telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu.
Menjadi deru dan dera
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu.
“Kepada Cium” (Joko Pinurbo, 2006)
Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah batu karang tersembunyi,
seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,
malam ini aku mau minum dari bibirmu.
Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,
seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.
“Buat Ning” (Sapardi Djoko Damono)
pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar
yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
Januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba : kita bergegas pada jemputan itu
(note: bukankah semua orang memang menunggu jemputan? dan apalah artinya waktu jika sudah begitu? waktu hanya berlalu dengan pasti dalam ketidakpastian tersebut *sigh*)
“Pada Suatu Hari Nanti” (Sapardi Djoko Damono)
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari
“Hatiku selembar Daun” (Sapardi Djoko Damono)
hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
nanti dulu
biarkan aku sejenak
terbaring disini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat ada yg abadi
sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
“Gadis Kecil” (Sapardi Djoko Damono)
ada gadis kecil diseberang gerimis
ditangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan air
dipinggir padang ada pohon dan seekor burung
“Batu” (Sutardji Calzoum Bachri)
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu
beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?
“Dalam Bis” (Sapardi Djoko Damono; 1967)
Langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana
wajah di kaca jendela yang dahulu juga
mengecil dalam pesona
sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada
“Berjalan ke barat di waktu pagi hari” (Sapardi Djoko Damono)
Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
“Kerendahan Hati” (Taufik Ismail)
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
“The Gardener – VIII” (Rabindranath Tagore)
“Soneta XVII” (Pablo Neruda)
I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,
or the arrow of carnations the fire shoots off.
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.
I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.
I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way
that this: where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.
~
aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,
secara rahasia, diantara bayangan dan jiwa.
aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.
aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam atau kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya
beginilah: dimana aku tiada, juga kau,
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur.
“Heart, We will Forget Him” (Emily Dickinson)
Heart, we will forget him,
You and I, tonight!
You must forget the warmth he gave,
I will forget the light.
When you have done pray tell me,
Then I, my thoughts, will dim.
Haste! ‘lest while you’re lagging
I may remember him!
“The Road not Taken” (Robert Frost : 1916)
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
“When We Two Parted” (Lord Byron)
When we two parted
In silence and tears,
Half broken-hearted,
To sever for years,
Pale grew thy cheek and cold,
Colder thy kiss;
Truly that hour foretold
Sorrow to this.
The dew of the morning
Sank chill on my brow
It felt like the warning
Of what I feel now.
Thy vows are all broken,
And light is thy fame:
I hear thy name spoken,
And share in its shame.
They name thee before me,
A knell to mine ear;
A shudder comes o’er me
Why wert thou so dear?
They know not I knew thee,
Who knew thee too well:
Long, long shall I rue thee
Too deeply to tell.
In secret we met
In silence I grieve
That thy heart could forget,
Thy spirit deceive.
If I should meet thee
After long years,
How should I greet thee?
With silence and tears.
“Kurcaci” (Joko Pinurbo – 1998)
kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam
dan ia bukan pertapa suci yang kebalterhadap godaan.
Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah
sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.
*will be updated*









Posted by tukangkopi on February 20, 2008 at 1:57 pm
waw..waw..waw..penggemar puisi juga rupanya..
punya puisi karya sendiri?
*ubek-ubek archive*
Posted by mademoiselle on February 20, 2008 at 2:06 pm
yup, suka sama beberapa banyak puisi
*berniat umpetin archives*
*teuteub duduk manis menunggu kopi pesanan yang tidak datang juga*
*ketok-ketok meja*
salaaaaam
Posted by silent reverie on February 20, 2008 at 5:47 pm
Makasih udah mampir di blog-ku. Wah, dirimu pujangga yak…
Posted by mademoiselle on February 20, 2008 at 6:19 pm
um… makasih juga

pujangga? enggak banget deyh kayaknya. i’m impulsive, neurotic, moody, blah…blah…blah…
tengkyu jugaaa…
Posted by duniaichigo on February 21, 2008 at 4:27 pm
hai hai, chigo mampir lagi nih
ternyata puisi pilihannya keren2 nih
Posted by mademoiselle on February 21, 2008 at 4:33 pm
hihi….
haiii… *waving hands furiously ke chigo*
silakeun…
*buka pintu rumah lebar-lebar*
keren karena blio itu semua emang tuob kalo udah berurusan dengan puisi tapi kok rasanya banyak yang tipikal puisi kelam yak?
*soktaumodeonbanget*
Posted by pink on February 22, 2008 at 12:18 pm
suka sama puisi yah? saya juga suka, tapi nggak bisa buat. cuma bisa baca doang dan menikmati.
Posted by mademoiselle on February 22, 2008 at 12:31 pm
suka sama puisi? banget!
um… tapi rasanya sampai saat ini hanya jago bikin sekedar-tulisan-gag-jelas-yang-dipaksa-untuk-bisa-disebut-puisi
baidewei, thanks for coming and drop by
salam kenal…
*waving hands*
Posted by Wee on February 26, 2008 at 2:58 am
hmm akujuga penikmat puisi
salam kenal mas
aku di http://www.sweetybell4.multiply.com
Posted by mademoiselle on February 26, 2008 at 7:28 am
hai mba wee


salam kenal juga
dunia puisi emang seru yah?
*klik url*
makasih sudah berkunjung
Posted by michko on February 26, 2008 at 11:35 am
makasi loh, dah singgah di blog gw.. salam kenal..
Posted by dede fortinmart on June 6, 2008 at 12:12 pm
numpang baca mas
Posted by mademoiselle on June 6, 2008 at 12:17 pm
silakeun…
dan selamat membaca
Posted by Jeff on July 8, 2008 at 6:04 pm
Nice… gue suka yg “Aku Ingin” dan “Kerendahan Hati”… deep and simple… thanx for sharing…
Posted by verseau on July 9, 2008 at 7:39 am
hm… another “aku ingin” lover

iya, setuju. “aku ingin” dan “kerendahan hati” simple tapi dalam maknanya
you’re welcome
Posted by AlexM on August 16, 2008 at 12:48 pm
Your blog is interesting!
Keep up the good work!
Posted by verseau on August 20, 2008 at 8:41 am
um… thanks Alex, i appreciate that
and also, thanks for dropping by
Posted by mierz on August 27, 2008 at 5:12 pm
waaah, puisinya banyak banget..
ijin kopi mba ….
eh, btw dulu ada temen kantor yg sering pake nick mademoselle, ini bukan ya???
Posted by verseau on August 27, 2008 at 6:06 pm
eh, iya… bukan puisi sendiri juga kok jadi feels free aja

um… rasanya bukan deyh, karena aku rasanya belum kenal sama mierz
emang kerja di kantor mana?
eh, eh, salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung
Posted by marwan on September 4, 2008 at 5:37 am
numpaang lewaaaat…
hohohoho
Posted by verseau on September 4, 2008 at 7:47 am
*minggir dan ngasih jalan ke marwan*
silakeun…
thanks for dropping by yak
Posted by Patrick on September 9, 2008 at 7:01 pm
Thank you for this nice set of poems. I try to translate some Indonesian poetry into French (sebab aku orang Perancis), but I’m not that good in Indonesian — tengah belajar, tanpa kemaluan : selamat kenal !
Petruk
Posted by verseau on September 10, 2008 at 9:36 am
hehe…



you’re welcome, Patrick
and by the way, you should write “tanpa malu” not “tanpa kemaluan”
see… malu means shy (adjective) while kemaluan is shyness (noun) but about this shyness, um… it has another connotative meaning in Indonesia
just ask google for it
anyway, glad to have you here
Posted by zodiaclove on October 11, 2008 at 5:17 pm
hola
I can not agree with what you wrote really….
please explain further a bit more for me
cheers
Posted by verseau on October 17, 2008 at 5:21 pm
hello there
)
which one that you can not agree with? i lost my focus here (for reading your comment
and thanks for dropping by yaa
Posted by coretanpinggir on November 6, 2008 at 5:35 pm
Wah pasti suak juga sama puiret ku (puisi coret)
Salam kenal
Posted by verseau on November 7, 2008 at 7:57 am
salam kenal juga
err… puisi coret itu apa yak? *gag mudheng*
*
sejenis karikatur sosial kah? *barusan ngintip jurnalnya
anyway, makasih sudah mampir ke sini
Posted by ivy_puppy on January 6, 2009 at 3:31 pm
kumpulan poem na bagus2… ^^
pencinta poem pasti py poem ndiri kn?
bole lia tak??
wkwkwk…. >,<
Posted by verseau on January 6, 2009 at 3:39 pm
hahaha…
silakeun aja masuk ke dalam, ada beberapa tulisan yang rasanya siyh bisa dikategorikan sebagai poems
*membuka pintu untuk ivy*
Posted by ivy_puppy on January 6, 2009 at 3:48 pm
*godek-godek*
gw gaptek kek na…
dari tadi koq ga nemu ya??
T_T
maklum mash newbie! >,<
Posted by verseau on January 6, 2009 at 3:51 pm
hihihihihihihi…
aku sendiri juga gag yakin ada di mana, yang jelas di arsip jurnal ini ada beberapa yang aku bilang “sepupunya puisi” lah
klik aja “just click me, will you?” itu
Posted by Myryani on February 24, 2009 at 9:40 pm
suka puisi yk??
Posted by verseau on February 25, 2009 at 10:45 am
iya My, sukaa banget sama puisi
tengkyu for dropping by yak…
salam kenal
Posted by ezra on March 7, 2009 at 1:14 am
penyair macam sapardi dan joko pinurbo adalah yg paling dekat di kepala saya. saya paling suka puisi sapardi yg “kukirimkan padamu”
….
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.
Posted by verseau on March 11, 2009 at 8:02 am
again, you make me fall in love deeply dengan puisi-puisi bapak Sapardi…
terima kasih
Posted by Sherry on March 21, 2009 at 1:47 pm
qu suka syirnya, bagus. Eh, qu juga penulis puisi lho, tapi ya gak bagus BgT sih…
Posted by verseau on March 31, 2009 at 9:38 am
hehe… makasih
emang di atas itu kumpulan2 puisi yang menurutku juga bagus.
makasih sudah mampir dan salam kenal ya Sher