on a lazy weekend.

weekend kemaren sedang dalam mood yang amat baik untuk mencermati *halah!* beberapa pilem. ada atonement, the eye, avatar, before sunset, my girl and i, reign over you, jane eyre, dan beberapa pilem laennya.

oleh karena itulah aku bilang kalau banyak yang harus diabadikan, karena niat baikku adalah untuk mereview beberapa pilem yang dalam beberapa wiken ini sedang sering digauli.

dari pergaulan itu, ada beberapa quote yang menarik, diantaranya adalah:

avatar:

“memang kadang sakit untuk punya harapan tapi lebih sakit jika peduli.”

“terkadang hidup seperti terowongan gelap ini, selalu ada cahaya terang diujung sana hanya saja kita harus terus berjalan.”

Monalisa smile:

“Perubahan butuh waktu dan kau tidak membiarkan waktu mengejarmu.”

Before sunset:

“Memory is a wonderful thing if we dont have to deal with the past.”

ada beberapa pilem yang emang diniati untuk retongton seperti monalisa smile, before sunset, jane eyre. dan kesimpulan dari retongtong tersebut adalah, “MUST HAVE THEM!”

bukan karena pilem-pilem retongtong itu hebat dari segi tekniknya, atau apa, tapi i just love the way they brought the story.

before sunset. adakah yang tidak menyukai pilem ini? (plus before sunrise yang unfortunately, i cant find it anymore :( ). betapa keseluruhan cerita tersampaikan dengan manis, lugas, wajar, padat, pas, berkesan, ringan tapi bermakna, dengan scene yang hanya berupa obrolan dari 2 orang tokoh utama dengan rute toko buku hingga apartment. dan itu hanya berisi obrolan dua orang saja.

aku membayangkan justru karena adegan hanya simple berupa obrolan 2 tokoh sepanjang cerita tersebut, obrolan yang diabadikan oleh kamera berjalan, dan obrolan itu bukan sekedar obrolan tanpa makna, bukan sekedar nice chit chat saja tapi penuh dialog-dialog cerdas tanpa aroma menggurui, tanpa ketidakwajaran.

dengan keminiman scene (95% hanya memperlihatkan obrolan antara Jesse, played by Ethan hawke, dan Celine, played by Julie delpy, selama perjalanan mereka menuju apartment Celine), tentu pada awalnya sudah terbayang betapa membosankan pilem ini, bukan? oh, come on, adegan semenarik apa siyh yang bisa disuguhkan dari dua orang yang berbicara tanpa henti sambil berjalan?

but you are wrong jika beranggapan seperti itu karena sepanjang pilem tersebut, semua mengalir wajar, pas, natural tapi penuh makna dan full cerita dengan dialog yang sangat cerdas TANPA AROMA MEMBOSANKAN SEDIKITPUN. bahkan keromantisannya pun ditunjukkan dengan cerdas.

haha… aku yakin, tidak akan habis aku menceritakan kekagumanku atas satu pilem ini jika aku tidak dengan terpaksa sukarela menghentikannya sendiri.

kesimpulannya? MUST HAVE THEM, karena keunikan dan keindahannya.

lalu ada Jane eyre, salah satu adaptasi dari novel karya Charlotte Brontë.

apa yang aku suka dari pilem ini ya? somehow, ketika melihat pilem serial ini, aku langsung teringat kepada pilem Pride and Prejudice dan beberapa novel karya Jane Austen.

apa yang aku lihat mirip dari Jane Eyre dan beberapa novel karya Jane Austen? adalah kemiripan dari tokoh wanita dan tokoh pria-nya.

Tokoh wanitanya selalu tipikal tokoh wanita keras kepala, cerdas, pandai berkata-kata, pedas dalam berkata-kata, mempunyai kesinisan tertentu, (oh, am i talking about myself? :P ) dan menyukai para pria yang selalu seperti tokoh pria dalam lawan mainnya ini.

Tokoh prianya selalu tipikal tokoh yang jutek, sinis, berkharisma, penuh aura gelap, tidak suka bermanis mulut.

lalu jika Jane Eyre dibandingkan dengan Pride and Prejudice? both of them punya dialog yang cerdas tanpa terkesan menye-menye dan rendahan.

for me, they both are parfait!

oh, sudahlah! tidak perlu membaca ini berlama-lama. tongtonlah!

Respond to this post