Archive for November 30th, 2007

kamu. penilaian. aku

ah kamu, masih berseri menantiku.

terima kasih.

hm… kamu, aku juga bingung dengan penilaian. penilaian tersebut seringnya membatasi diriku. membatasi adanya diriku.

jeleknya aku, aku selalu malas untuk mengubah apapun penilaian orang yang dibuat untukku. baik penilaian baik maupun penilaian buruk. aku cuek walopun sebenarnya gag cuek juga. kamu mengenalku dengan baik, bukan? dan kamu menyimpulkan kalo aku bukan tipikal yang cuek sebenernya.

ah, ternyata kamu pun sudah punya penilaian tersendiri terhadapku. bahwa aku tidak secuek yang aku tampilkan di luar selama ini.

kamu,

aku tidak punya kuasa terhadap semua pemikiran dari semua orang. dan aku selalu merasa lelah ketika aku “dibebani” dengan keharusan untuk membenarkan penilaian yang dimiliki orang laen terhadap aku dan karenanya aku selalu menyerah dan membiarkan mereka beranggapan apapun itu terhadap aku. terserah.

akhir-akhir ini, aku merasa serba salah dengan semua penilaian yang kumiliki terhadap semua pribadi yang aku kenal. karena, akhir-akhir ini banyak penilaianku yang ternyata salah. dan hal itu membuat aku merasa salah untuk melabeli semua orang tersebut. aku menjadi tidak yakin atas kemampuanku untuk “menganugerahi’ label tertentu terhadap mereka. dan rasanya semua label ini jadi sekap transparant terhadap “kebebasanku”.

phew…

kamu mengerti kan maksud pembicaraanku?

semua penilaian dan labelisasi ini seolah menjadi hal penting sekali. padahal it just one thing.

kamu,

tahu tidak kenapa aku memikirkan hal ini? karena aku kecewa. kecewa terhadap diriku karena pasrah terhadap apapun yang dipikir orang laen terhadap aku. kecewa ternyata seorang temanku melabeli diriku atas satu hal yang aku yakin it’s so not me dan aku terlalu males dan pasrah untuk mencoba mengubah label dari satu teman tersebut.

karena aku merasa, gag ada guna juga jika aku berusaha sekeras tenaga untuk mengubahnya. aku malas untuk mengubahnya.

kamu setuju bukan jika aku bilang “perlu waktu seumur hidup untuk mengenali seseorang, seutuhnya.”

setuju bukan?

jadi apa hakku? apa hakmu? apa hak kita untuk menyematkan label “orang jutek”, “orang boros”, “pemarah” ke dada seorang laen? kita tidak berhak, bukan?

dan yang menyematkan label tersebut hanyalah ego kita bukan? ego kita yang bersinggungan dengan tindakan orang laen tersebut dan lalu dengan gegabah kita sok tau untuk menyimpulkan tentang seseorang tersebut.

benar begitu?

kamu,

aku capek hidup seperti ini. capek sekali.

ah iya, kamu pun juga melabeli aku sebagai aquarians sejati yang selalu berbuat seolah memikul beban umat seluruh dunia.

aku cuman melabeli semua orang dengan satu label.

“orang baik.”

haha… kamu tertawa. apa yang lucu?

er… iya siyh, karena ke-naif-anku tersebut, kamu sering memarahiku karena aku sering terjebak dalam hubungan yang tidak jelas dan kamu selalu menyimpulkan bahwa aku sangat mudah dimanfaatkan.

apakah sekarang kamu pun memanfaatkan aku?

tentu, tentu kamu memanfaatkan aku, bukan? memanfaatkan aku supaya mau dengan senang hati menghidangkan lagi dan lagi sepotong cheese roll, opera dan sepiring pisang goreng ditemani dengan secangkir kopi hitam pahit. di penghujung hari ini bertemankan semburat warna jingga di ufuk barat dan ditingkahi dengan suara ombak yang saling bersautan.

kamu,

untukmu aku akan selalu menyediakannya dengan seulas senyum manis dan tulus di bibirku.

kamu,

terima kasih untuk semuanya.

kamu. bahagia. kebahagiaan. aku.

hai kamu,

apa kabar? kuharap baik-baik saja.

kamu, bisa duduk di sebelahku sebentar? aku ingin bertanya padamu. bolehkah?

aku bingung bagaimana memulainya. semua berkelebatan di otakku tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menangkap inti sarinya. semuanya berasa penting dan tidak mungkin aku lepaskan tetapi aku tidak bisa menangkapnya. aku bingung.

tentang kebahagiaan. penilaian. individu. hidupku.

kamu, kurasa aku bahagia. kamu tahu itu, bukan? ada saat di mana aku selalu menangis dan seolah duniaku tidak ada yang benar. tapi ada saat juga aku tertawa dan tersenyum. senang. menurut kamu, aku bahagia, bukan?

tapi apa itu bahagia? kebahagiaan. kenapa aku tidak bisa menjelaskannya? kenapa aku tidak bisa menuliskannya? aku tertawa. aku tersenyum. tertawa terpingkal-pingkal. itukah bahagia? hanya dengan beberapa kalimat pendek itukah aku bisa melukiskan bahagiaku?

semudah itukah?

kebahagiaan apakah mengenai pencapaian? aku yang sekarang sudah bekerja dan mandiri secara ekonomi, apakah ini kebahagiaan? aku yang tidak ambil pusing untuk membeli apapun yang aku mau, buku, buku, baju, buku, apakah itu juga yang disebut bahagia?

kalo senang? iya aku senang dengan semua pencapaianku ini. tapi bahagia?

kurasa kebahagiaan tidak bisa aku artikan sedangkal sebagai “pencapaian”. kurasa kebahagiaan lebih dari hanya sekedar “pencapaian”.

jadi apa dan bagaimana kebahagiaan itu?

senang in english is “happy”.

kebahagiaan in english is “happiness”.

so?

are they the same two equal words? no, rite?

ah kamu, aku bingung…

kebahagiaan bukan hanya rasa senang, tertawa, tergelak saja. tapi aku bisa merasa lebih dari senang meskipun i’m in trouble deep ketika aku berkumpul dengan para sahabat dan kami tidak melakukan apapun hanya saling mencela dan saling menertawakan. pada saat itu aku lebih dari senang, kurasa aku bahagia.

kebahagiaan… satu hal absurb yang tercecer di mana-mana tidak peduli apapun yang aku alami. satu hal absurb yang tercecer, tergeletak, melayang tak beraturan dan hanya menunggu untuk aku ambil.

tapi kenapa ya, bagiku susah untuk melukiskan dan berkata-kata tentang kebahagiaan.

mungkin aquarians memang tidak bersahabat dekat dengan kebahagiaan sehingga kami tidak menemukan satu kata kunci untuk menjabarkan secara gamblang hubungan kami.

kamu setuju denganku?

kamu, jangan beranjak dulu. bersabarlah sebentar lagi. aku belum selesai tapi aku harus meninggalkanmu untuk sejenak. tunggulah sebentar lagi karena sepotong cheese roll, opera dan secangkir kopi hitam pahit akan segera tersaji dan lalu kamu akan mendengarkan kicauanku lagi. tentang penilaian.

sebentar, aku tinggalkan kamu dulu. tunggulah tetap di tempatmu. jangan beranjak.

demi aku.

demi persahabatan kita.

kok gag pede yak?

uh oh… kemampuan berbahasa inggrisku dengan baik dan benar menurun.

jadi serba tidak pede mo bilang apapun dalam bahasa planet tersebut.

apa yang terjadi?

what happen?

aya naon?

*gag pede*

untuk mengatasinya… er… let’s speak english starting from now on, ok?!

hihihihihihihihihihihi…

gag pede euy!