Archive for December, 2007

sudah bukan masalah benar atau salah lagi…

i’m trying too hard not to show my real & deep emotion to him. usaha yang terlalu keras sehingga kadang kupikir bukan suatu hal yang baik lagi.

karena lagi lagi i’m pretending.

tapi ya bagaimana lagi? emosi ini adalah urusan intern-ku tokh? antara aku, aku dan DIA. he is excluded meskipun ini tentang rasaku padanya.

sudahlah, berpura-pura juga bukan hal baru bagiku. so? i think i can handle it tokh?

semoga rasa ini tidak tumbuh. amien!

bukan begitu bukan, Tuhan?

argh! *pms mode on*

semua serba tak terkendali!

leave me alone, please…

Tuhan, aku tau aku bisa tapi kenapa sesulit ini ya?

aduh!

aduh!

aduh!

hati kenapa susah dibilangin?!

give up, bu! give up aja!

ayo dunk, give up!

duwh…

……

only the darkness that lead me back to that memories.
and the darkness is still here.
nothing that i can do……

kenangan dalam masa lalu

kamu.

pernahkah tertawa sembari menangis? bukan karena sebuah adegan sinetron yang berlangsung dan kamu tonton dalam kehidupan nyata. tetapi atas peristiwa yang kamu alami. tertawa untuk diri sendiri seolah tubuhmu adalah bukan kerangka jiwamu.

menangis atas luka yang tercarut di jiwamu. dan kamu menertawakan tangisanmu.
kamu. pernahkah?

mohon maafkan aku jika aku berkesan menyalahkan kamu padahal tidak. aku tidak menyalahkanmu. aku hanya terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanku, untuk menanggung beban tanggung jawabku dan aku perlu kamu untuk meringankan semua rasa ini. so i blame you.

kamu. maaf.

bahkan hingga detik ini semua berasa berat. rasa ini masih sangat kuat dan membuat aku kewalahan meskipun aku sudah menerapkan teori naik turun. semua masih berasa berat.

entah apa yang telah kamu lakukan hingga sosokmu sangat kuat menguasaiku.

kamu. terlalu kuat.

bahkan aku sudah mencoba untuk membencimu dengan mencoba mengingat hal-hal buruk yang sudah pernah kamu lakukan. tapi aku tidak bisa. bukan karena tidak ingin tapi aku tidak membiasakan diriku untuk menyimpan hal-hal buruk. bagiku, membenci orang jauh lebih sulit daripada menyakiti diri dan hatiku sendiri.

kamu. terlalu indah untuk aku benci.

aku tau bahwa semua ini akan berlalu.

aku tau kenangan ini akan berubah menjadi satu hal indah yang hanya bisa memancing senyumku, suatu hari nanti.

aku tau aku akan berhenti menyakiti diriku seperti saat ini, suatu hari nanti.

aku tau someday, aku dan kamu, di suatu sore yang indah, duduk di kursi favorit masing-masing dan senyum indah terukir di bibirku dan bibirmu ketika teringat semua imi. aku di sini dan kamu entah di mana.

aku tau itu. karena kenangan hanyalah satu hal yang lucu yang hanya pantas untuk aku tertawakan.

hanya saja, aku tidak menyangka bahwa sebuah kenangan bisa membuat aku untuk memilih menyakiti diriku sendiri sebelum aku mencapai titik balik kelucuan tersebut.

kamu. maafkan aku.

the easiest way…

untuk menyelamatkan hariku dari kebetean adalah dengan cara membiarkan aku menjadi anak hilang.

sudah terbukti sangat ampuh! :p

mungkin karena semua energi dan emosi negatif tercurah untuk mengatasi nervous dan segala kekhawatiran ketika menjadi anak hilang. dan juga karena otak terfokus sekali terhadap semua detail supaya aku terhindar dari bencana nyasar.

hati juga terfokus untuk selalu berpositif thinking dan untuk menertawai semua kebodohan yang pasti walaupun sedikit tapi akan selalu ada dalam lembar sejarah ketika aku menjadi anak hilang :p

so, it works!

seperti hari ini 🙂

pengalaman yang tak terlupakan walaupun ada kebodohan-kebodohan di dalamnya. excuze moi, saya baru turun gunung dari jakarta yang di sebelahnya pojokan papua itu tu…

hihihi…

maaf…

i know it’s so selfish.

aku pun tahu semua yang mereka lakukan adalah baik dan karena peduli serta sayang aku.

tapi jika aku boleh meminta dan memilih maka stop giving me this stuff.

aku bukan tipikal orang yang suka diperhatikan dan being in a huge and massive spotlight.

dari semua mua kejadian dan peristiwa, aku selalu menemukan suatu ketidaknyamanan ketika mendadak semua orang peduli dan bertanya bagaimana kelanjutan dari peristiwa tersebut. aku masih merasakan suatu ketidaknyamanan tersebut seindah dan sepositif apapun jawaban dari pertanyaan mereka itu. padahal mereka tidak salah karena mereka hanya peduli atas hidupku tapi aku tidak suka, aku tidak suka atas bentuk kepedulian itu.

i hate myself for this.

suatu hal yang tidak salah, suatu bentuk kepedulian dan rasa sayang, kenapa aku membencinya ya?

hingga membuat aku tega untuk mendiamkan telepun dari mereka hingga mereka perlu menelpun aku hingga 5x berturut-turut.

tolong deyh, biasa aja menyikapi apa yang sekarang kujalani.

tolong, dont give me and dont put me under any spotlights! itu bukan daerah nyamanku.

hari yang aneh

ok, i admit that i made mistake dengan jalan ma yudi.

hanya karena dia sudah menikah dan bahkan menjelang menjadi ayah maka aku berasumsi bahwa the way he behave in front of me will different.

but it is not!

mungkin juga aku yang terlalu melebih-lebihkan tapi… aduuh! kemaren enggak banget! deyh!

enggak banget!

apalagi ketika dia bicara about his after marriage life yang mana harus aku dengarkan karena talking about his wife setidaknya bisa mengingatkan dirinya kalo dia sudah tidak available anymore in any way… kemudian ketika aku dan dia jalan di komplek pertokoan. bahkan aku sampai merasa perlu menerapkan jurus jarak 10 meter darinya!

aduh bapak, plis deyh! biasa we seperti pada umumnya seorang teman. inget keluarga!

ecape d! bahkan sampai sekarang aku masih inget dan merasa risih. masa’ selama sehari kita jalan dan setiap aku tidak bisa menghindari kontak fisik dengannya maka keningku langsung berkerut dan langsung terjadi monolog di otakku, ‘well, okay! what now?!’

duwh! ga nyamaaan!

*manyun*

dan yeah, mungkin aku melebih-lebihkan juga tapi i just feel that way…