Archive for January, 2008

cinta dan perkawinan

gudang saya penuh. makanya hari ini aku jadi sok rajin dan sok bersih.

dan ternyata rajin dan bersih itu tidak merugikan! (teori baru lhoh! 😀 )

buktinya, aku menemukan satu harta yang tertimbun sampah-sampah tidak berguna 🙂

here it is…

Plato adalah murid Socrates yang terbaik. Idenya tentang dunia ideal membuat sebagian sejarawan berpendapat bahwa ada kemungkinan ia sudah berkenalan/mengenal dengan agama tauhid sebelum atau semasa ia menyusun alur filosofi-nya.Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Aristoteles.

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta, Guru? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu ke sana dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”

Plato pun berjalan, dan tidak berapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Saya hanya boleh membawa satu ranting saja, dan saat berjalan pun tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya saya telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi saya tak tahu apakah ada ranting yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi saya tak mengambil ranting tersebut. Saat saya melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru saya sadari bahwa ternyata ranting-ranting yang saya temukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi,  jadi tak saya ambil sebatangpun pada akhirnya.”

Gurunya kemudian menjawab “Jadi itulah cinta.”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang sangat lebat didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata saya kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan pertama saya lihat pohon ini, dan saya rasa tidaklah jelek-jelek amat, jadi saya putuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Saya tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya, itulah perkawinan.”

~~

membaca cerita di atas, kamu belajar apa?

semoga belajar hal baru yang bermanfaat yah? seperti aku 🙂

(to be honest, tetap ada pelajaran penuh hawa skeptic di atas 😛 , gue gitu lhoh! 😀 )

hatchiing… *ambil tissue*

*sigh* *sigh* *sigh*………

hobi baru sekarang, eh, entah hobi baru atau hobi lama yang sekarang timbul kembali dan tersalurkan dengan baik dan benar. *bingung*

adalah gemar dan cekatan untuk langsung memutuskan tidak menyukai seseorang baru.

yah, in the first 3 minutes lah keputusan najis tersebut bisa dibuat dengan seksama.

hebadnya lagi (er… suatu kehebatan bukan? 😀 ), itu bukan hanya aku rasakan terhadap orang-orang yang secara nyata bersinggungan sama aku tapi secara tidak nyata pun sangat bisa sekali terjadi.

seperti ketika sedang menampung cerita dari seorang teman kerja tentang tetangganya, padahal it just a small talk dan rasanya teman kerjaku itu tidak bercerita penuh esmosi yang membuat aku terhanyut arus esmosi dari pendongeng but that’s it! aku mendadak menyimpulkan bahwa tetangganya si teman ini begini begitu begono dan alangkah jahatnya si tetangga ini.

padahal kenal sama oknumnya pun kagak.

er… rasanya aku perlu bertapa di puncak gunung kawi lagi.

etapi… kursus bahasaku ini bijimana dunk? sabtu besok ujian! *siyaaaall… materinya sulit! 😦 *

duwh… apa karena stres memikirkan ujian ini juga yak? jadinya sedikit lost control begini?

*brainwash otak dengan bayclin dan segala macam musikalisasi puisi yang ada di kompi*

berasa capek… 😐

dan sepertinya juga pengaruh dari berbagai macam kejadian akhir-akhir ini 😐 .

berasa sangat capek sekali 😐 .

not a good thing tokh keadaan di atas? nyadar siyh. sadar banget kalo menghakimi seperti itu dan tanpa bukti adalah salah, cuman i cant help myself doing it. automatically aja *garuk garuk kuping*.

jadinya sekarang setiap kali otak sudah memanage hati untuk tidak menyukai seseorang, otak sisi kanan juga langsung memberi perintah ke hati untuk segera memaksa diri menyukai sosok yang sama tersebut 😀 *bingung bahasanya*

jadi…jika kamu di surabaya.

jika kamu naik angkot terutama rute surabaya-sidoarjo-surabaya.

dan kamu satu angkot dengan cewek yang menawan hatimu.

cewek cantik yang menawan hatimu dan murah senyum padamu.

cewek cantik yang menawan hatimu dan tidak pernah berhenti untuk memandangmu dan tersenyum super manis.

cewek cantik yang menawan hatimu dan sopan sekali ketika kamu ajak berbicara.

mungkin itu aku.

tapi ati-ati juga…

mungkin itu orang gila…

atau…

mungkin dia adalah aku yang sudah gila.

😀

huehehehehehehehe……

bon courage!

sedikit lagi…

sebentar! jangan sekarang!

tunggulah, beberapa saat lagi…

kumohon…

sekali ini saja, beri kebebasan bagiku

sedikit lagi…

jangan kau buat matahari tergesa mengintip hidupku

sebentar lagi…

biarkan aku menikmati suasana remangku ini

menghayati kehampaan ini

dan terkuatkan

sedikit, sedikit lagi…

biarkan matahari beristirahat sebentar lagi…

karena nanti,

pasti. senja akan menyapa.

suatu saat nanti dan pasti terjadi

aku hanya ingin…

menikmati senjaku dengan damai

ketika saatnya sudah tiba

dan rasa rindu meresap ke dalam hati senja

dan hatiku

atas perjumpaan kami

di suatu saat nanti

ketika senja, harus menyapaku.

untuk kado…

kalau boleh meminta, untuk kado ulang tahunku bulan depan…

aku mau, aku ingin, aku bermimpi, aku berharap untuk bisa bertemu dengan bapak Sapardi Joko Damono.

untuk apa?

untuk bertanya, untuk menyapa, untuk melihatnya secara nyata.

untuk bertanya, “kenapa hujan?”

“hujan yang sepertinya selalu memberi ide baru untuk bapak?

“kenapa menyukai hujan”

“bagaimana bisa membuat puisi seromantis puisi bapak yang berjudul-aku ingin-itu?”

“bagaimana bapak bisa membuat puisi sesedih-nocturno-itu?”

kenapa…

kenapa…

kenapa…

bagaimana…

sekedar bertanya dan bercakap dengan beliau.

untuk menyapa, “bapak, sudah lama saya menantikan kesempatan indah ini, bertemu dengan bapak.”

untuk melihatnya secara nyata…

dan lalu…

menjabat tangannya erat.

“apa kabar, bapak?”

aku mau hadiah ini.

meskipun aku tidak yakin apakah aku bisa bersuara di hadapan beliau.

tentang mimpi

sepanjang masa itu, aku serasa bermimpi

mimpi indah yang melenakan

kadang mimpi buruk pun muncul tapi…

tertutupi…

terkacaukan oleh banyak mimpi indahku.

hingga kemarin,

ketika aku tidak bisa berpaling dari satu mimpi buruk itu

terlukakah? tentu.

kemarin, kuanggap mimpi indahku telah berubah menjadi mimpi buruk

hari ini aku sadar,

semua itu hanya mimpi

dan hanya sebatas mimpi

yang lambat laun menjadi satu kenangan abadi

sebatas kenangan tanpa bumbu apapun.

hanya kenangan. titik period.

dan kamu, lelaki penabur benih kenangan itu.

kurasa, sekarang aku merindukan mimpi-mimpi indah itu…

dan juga kamu.

hujan di Surabaya

ah, sesiang ini di Surabaya sudah hujan 2 kali…

deras dan gelap

dingin

(ya, ya segelap dan sedingin hatiku)

tidak bermaksud bercerita padamu tentang hujan dan tentang dingin ini

hanya sekedar ingin berbagi suasana hari ini denganmu.

suasana hati dan suasana kota ini.

dalam kelam

dalam kelam

embun pun tetap bersinar

memantulkan senyum, menggaungkan harap di dini hari

ketika gelap berkubang

angin pun masih bersiutan

mengabarkan kepadaku

tentang satu asa yang masih berdiri teguh

meskipun lelah

meskipun hampir tak terlihat

percaya tentang satu pertemuan indah

yang entah kapan akan terjadi

suatu saat nanti

meskipun gelap tetap berarak di langit barat.