dalam heningnya malam part une

cuman ngingetin buat diri sendiri aja betapa dulu ketika masih imut 😛 dan baru berkenalan dengan sang maestro Chairil Anwar (SMP kelas 1), aku langsung jatuh cinta pada puisi beliau yang satu ini, bukan “AKU” padahal justru “AKU” lebih tenar dari puisi pilihanku ini (terima kasih pada ibu guru bahasa Indonesiaku yang memberi tugas untuk membaca puisi AKU yang justru mengenalkanku pada puisi beliau yang laennya, btw, guru bahasa indonesiaku waktu smp siapa namanya yak? pake kerudung dengan suara nyaring dan lucu tapi teges kalo ngajar, hiks…). puisi yang ini…

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan bahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satupun juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak akan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka.

(Tak Sepadan – Chairil Anwar)

~~

ada saat di mana dalam satu moment, kamu akan teryakinkan oleh satu hal dan merasa terikat oleh hal tersebut tanpa nalar ataupun penjelasan yang bisa masuk logika. kamu hanya merasa terikat, teryakinkan dan tersambung tanpa kamu mengerti mengapa dan apa itu.

itu yang aku rasa dulu ketika membaca puisi beliau yang satu itu.

begitu terkesannya aku sehingga aku tidak bisa menjelaskan tentang apa yang terpampang di hati, otak dan keyakinanku.

aneh ya? iya, aku juga merasa aneh. tapi it’s real dan itu yang aku rasa dulu ketika membaca puisi ini.

rasanya… there is something about this poem. tapi aku tidak tahu something itu apa.

i just feel it and sure about it tanpa aku tau apakah “it” itu…

pada saat membaca puisi ini untuk yang pertama kali pun aku tidak merasa punya kesan emosi khusus terhadapnya. just read it. i just know it. i just feel it.

duwh, aku merasa bingung menjelaskannya secara mudah dan gamblang.

aku tidak merasa sedih ketika membacanya padahal puisi di atas sedih sekali, bukan? tentang cinta tak terbalas, keikhlasan entah keikhlasan yang terpaksa ataupun yang benar-benar tulus, tapi berasa emosi negatif dari sang penciptanya, bukan?

aku bener-bener ingat betapa pas membaca buku puisi beliau, aku terhenti cukup lama di puisi satu ini, di bangku perpus SMP-ku yang sempit sekali dengan pengunjung yang banyak dan bising dan beberapa teman yang saling berkomentar tentang novel NH. Dini yang mereka baca tapi dalam keadaan tersebut aku bisa bener-bener mendadak terfokus dan terpaku membacanya. dan aku ingat, seorang temanku, Betty (ya ya, Betty la fea!) yang mendadak melihatku dengan aneh dan bertanya, “baca apa siyh? kok aneh gitu mukamu?” (tentu dalam bahasa jawa!)

hehe… bahkan aku masih ingat sedetil itu yak? karena memang moment tersebut amat berkesan bagiku.

ah, sutralah… it just a poem yak? gag usah dipedulikan apapun dan sebesar apapun keterkaitan emosionalku dengan puisi itu 😐 .

selain puisi di atas, 2 puisi beliau yang juga lumayan bisa bikin “waktu terhenti untuk sekejap” bagiku adalah yang berjudul “Penerimaan” dan “Cintaku jauh di pulau”.

hehe… mau tau puisinya seperti apa? coba tanya um gugel.

umm…mungkin emang insting dan intuisiku tajam kali yak? karena banyak kejadian seperti di atas selama ini, hal-hal yang ketika terjadi aku tidak bisa menjelaskannya secara baik dan benar dan bisa diterima akal dan logika. hanya tau dan teryakinkan begitu saja.

dan kenapa lagi-lagi aku membicarakan puisi ini?

karena sudah sebulan ini, ada seorang teman penggemar puisi yang berulang kali mengirim sms untuk membicarakan puisi ini dan “menyesali” kegemaranku kalo tidak mau dibilang “pemujaanku” 😀 terhadap puisi se-gelap dan se-sedih ini 🙂 .

er… sutralah. i just love his poems terutama 3 puisi di atas nomatter segelap apapun puisi-puisi tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: