tentang perih

jadi bagaimana,

jika aku berlari lalu terbang mengepakkan sayapku

untuk menampar matahari

dan memporakporandakan langit, bila perlu langit tertinggi pun akan aku kacaukan

tidak perduli, meskipun langit merintih sakit

meskipun semburat merah darah semakin mengental darinya

demi satu trisula poseidon untuk aku curi

dan aku tancapkan ke hatimu

karena mata dibalas mata

satu tancapan trisula untuk beribu panah berbisa yang telah kau panahkan ke hatiku

(Surabaya, 15 Januari 2008)

~

oke, sepertinya sekarang periode puisi gelap bagiku πŸ˜›

however, puisi tetap puisi πŸ™‚

~

jika memang sudah berniat untuk melangkah, ya melangkahlah. tanggung resikonya jika…

ada batu segedhe gajah nangkring di depan dan kamu tidak melihatnya, jatuh?

ada lumpur hisap dalam jarak 10 langkah di depanmu dan kamu yakin bisa melewatinya, terhisap?

terkena hujan badai sebelum tiba di satu tempat untuk berlindung, kedinginan?

dikejar anjing gila tanpa membawa tongkat sakti, lari? duel?

ternyata jalan itu jalan buntu, berbaliklah! bukan untuk mengulang ke titik awal tapi untuk menemukan satu belokan kecil yang tertutup rimbunan rumpun bambu yang PASTI ada entah di sudut mana dalam jalan yang selama ini ditempuh.

get real, imas!

~

kenapa ya aku sukaaa banget akan satu puisi Joko Pinurbo yang aku lupa judulnya apa tapi karena saking sukanya, aku masih hafal puisinya seperti apa. seperti ini nee…

~

“Seperti apa terbebas dari dendam derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan dari cengkeraman luka.”

~

beuh… dalamnya! kebayang gag siyh sakitnya ketika satu pisau dicabut dari tubuh kita secara pelan-pelan?

sakit! dan itulah rasanya terbebas dari dendam derita.

~

sebenarnya malam dan gelap sudah datang dari dulu. hanya saja aku terbutakan oleh binar beribu lampu jalan yang bertingkah seperti matahari. dan lalu ada kilau matamu yang menyilaukan.

karenanya aku melangkah ke dalam gelap malam hanya karena fatamorgana atas kilau matamu yang menyesatku semakin jauh dari realita.

who’s to blame?

absolutely me! karena membiarkan diri ini tertipu.

~

*inspired by chairil anwar’s poem “dendam” (july 1943rd) *

Lihat, lihatlah aku

merah merekah membara

persis angkara di gelapnya malam

cium, cium aromaku

pekat serupa genangan darah busuk

merah gelap menggelegak

terbelenggu dan buta

bahkan gemerisik angin pun tak mampu menembusnya

apalagi teriakanmu

pandanglah bulan purnama itu

bahkan sinar abadinya mengerucut

bersembunyi di balik awan tebal

tertunduk

mengiba

memohon ampun

biar murkaku tidak membakarnya.

(Surabaya, 17 Januari 2008)

*sepertinya aku harus membuat satu page khusus berisi kumpulan puisi yang aku sukai*

~

kenapa ya, denger lagunya alm. Chrisye yang berjudul Damai Bersamamu yang dinyanyikan ulang oleh Gaby Idol, rasanya trenyuh dan menyayat hati…

*mendengarkan lagi*

mungkin aku kangen DIA…

~

hmph… ya Tuhan, iya… aku memang bandel. meskipun tamparan ini seharusnya bisa menggeser semua prinsipku bahkan mungkin malah bisa memutarbalikkan semua prinsipku tapi aku masih keukeuh memegangnya. aku masih berani untuk ENGKAU tampar lagi (walopun resikonya aku bakal menye-menye 24 jam sehari dan 7 hari seminggu πŸ˜› *kasihan para temansku πŸ˜€ *).

tapi Tuhan, aku tidak merasa paling baik, paling benar dan paling suci, aku hanya merasa prinsip/mimpi/keinginan yang sekarang ada di benakku dan dari dulu aku perjuangkan adalah hal yang indah and that the world should be. dan karenanya, aku masih tetap memegangnya hingga sekarang bahkan berani untuk menerima tamparanMU lagi.

tapi Tuhan, tidakkah Engkau tergoda untuk mewujudkan mimpiku ini? *wink Tuhan dengan genit* πŸ˜€ .

ah, tidak ada dendam di sini pun amarah sama sekali tidak ada, meskipun postingan ini berjudul tentang perih, meskipun isi postingan ini berbau darah dan pembalasan, meskipun aku menutup semua jalur komunikasiku.

i just feel… nothing…

emptiness…

dan bagiku, kekosongan dan “feel nothing” ini justru lebih ber-ba-ha-ya daripada jika aku marah dan mendendam.

but anyway… sutralah haiii… *wink*

~

sedih! akhirnya tamat baca komik serial “Samurai Deeper Kyo (nomor 38), dan closingnya bikin terharu banget…

“Kalau nanti kau lelah berjalan di ‘jalan’ itu, cobalah mampir. saat itu, aku pasti menanti dengan wajah ceria seperti dulu.”

huwaa…… *menangis terharu*

~

dan sekarang,

biarkan aku memeluk dendam dan murka

bersahabat dan belajar memahaminya

tersungkur dan saling membunuh

agar nanti kelak bisa kami temukan…

satu makna baru tentang persahabatan kami ini.

hingga waktu itu tiba,

jangan pernah kamu berani mendekat kepadaku lagi.

~

honestly, aku gag peduli apa yang dipikir dan dianggap orang laen ketika baca puisi di atas dan keseluruhan postingan ini nanti jika kalimat *will be updated* sudah aku hapus dari sini.

mau dibilang dendam? marah? terluka?

terserah.

ya, aku terluka. ya, aku marah. tapi mengubah luka dan marah itu menjadi dendam? sepertinya enggak akan. bahkan doa buruk pun tidak pernah terucap dan terlintas. aku merasa lebih rugi aja jika ucapan buruk keluar dari mulut manisku.

aku tidak dendam walopun puisi di atas berbau dendam yang amat sangat menyengat dan busuk.

boleh dibilang, aku sudah menganggapnya mati. dan bagiku, berhubungan/berkomunikasi dengan orang mati adalah hal yang diluar nalar dan aku takut membayangkannya, enggak banget deyh!

sekarang adalah urusan antara aku versus aku dan aku versus Tuhan.

jadi, terserah kalo ada yang menyimpulkannya sebagai dendam. i dont have any control to your mind and brain, vice versa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: