sang ibu

maka pada suatu kelam aku tersungkur

bukan karena gelap atau hitam

bukan juga karena jalan yang bergelombang dan tidak terlihat

kelam itu menelan cahaya

membutakan mata bukan hati

mestinya aku masih bisa melangkah

meraba dalam gelap tanpa tersungkur

saat itu aroma tanah menguar, harum

membelai, membuai

cium aku, cium aku seolah tanah menggodaku

tanah menawarkan pelukan hangat untukku  sementara udara hanya menamparku

aku MEMILIH untuk tersungkur

bukan karena kelam, bukan karena gelap

aku mau tersungkur

dipeluk, dibelai, dibuai tanah

berhenti untuk sejenak meresapi makna

bertemankan sang ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: