badai kenangan

Badai kenangan.

Um…entah di mana dan dari mana, rasanya frase tersebut sudah pernah diucapkan oleh orang lain. Tapi entah siapa, jadi whoever you are, aku pinjam istilahnya yak 🙂 *lupa dan super mayes buat ber-google-ria*

Yup, badai kenangan.

Sudah tiga minggu ini sang Dokter positif menjeduogh aku terjangkit badai kenangan ini. Dan sebagaimana efek badai sebenarnya maka badai kenangan ini juga memporak-porandakan dan mengacaukan semua tatanan.

Ya… suce siyh, banget! Tapi dari awal pun udah tau mengenai keberadaan badai ini dan kegemarannya untuk muncul mendadak tanpa terprediksikan sebelumnya sebagaimana pula dengan badai-badai lainnya di Indonesia yang selalu muncul tiba-tiba mengacaukan semua tanpa pemberitahuan awal dari pihak yang berwenang 😛 .

Anyway, cukup satu kenangan kecil saja, satu kenangan ringan bin ecek-ecek, hanya sebatas gelak tawa ringan yang sangat lirih terbawa oleh angin dan siyalnya satu hal kecil itu bisa membuat pointer dalam otakku segera menunjuk satu kotak kecil yang sudah aku coba letakkan di tempat paling pojok dalam lemari arsip kenangan ini dan dia membuka kuncinya dengan amat mudahnya yang membuat otakku terserang badai kenangan ini.

Seperti…

Setetes air teh yang jatuh ke selembar kain kering. Menetes merembes merambat menjalar membuat jaring-jaring baru yang perlahan meluas dan makin meluas untuk akhirnya membuat selembar kain tersebut totally basah.

Badai kenangan.

Hanya dengan gelak tawa ringan yang amat lirih yang entah milik siapa, entah menertawakan apa bahkan entah apa pula yang mirip antara gelak tawa ringan tersebut dengan gelak tawanya yang bisa membuat aku terserang badai kenangan tersebut.

Cukup satu hal kecil tersebut dan mampu membuka semua simpul kenangan yang telah aku simpul rapi dan membuat aku seolah mengalami Déjà vu atau setidaknya kenangan-kenangan tersebut masih fresh from the oven ajah.

Dan siyalnya, rumus untuk mengantisipasi badai kenangan tersebut belum aku temukan.

The one and only thing yang bisa aku lakukan adalah terjun dan membiarkan diri ikut basah, lalu berusaha menikmatinya meskipun berarti having a gloomy day for a couple week.

Something that I canot afford so I have to enjoy it, rite? No matter how hard and suck it is.

Do I blame you? Do I blame any one?

Um… I don’t think so. I don’t blame you, neither I or any one.

Memang ini sudah resiko tokh?

So, why should I bother blaming thing on u? gag worth it banget lah.

Jadi ya, tiga minggu kemaren berat, selain karena kerjaan yang bujubuneng pinter banget banget juga karena terserang badai kenangan ini 🙂 .

How about this week?

Hihihihi… much, much better! Badai kan ya gag selamanya terjadi tokh, selalu akan ada masa tenang dan menyenangkannya meskipun (mungkin) badai akan menyerang lagi 😛 .

Yang jelas siyh, tindakan preventif harus dilakukan supaya badai bisa ditanggulangi dan kalopun terjadi efeknya gag akan terlalu berat rasanya 🙂 .

Bukan begitu, bukan sodara?

Anyway, hihi… senang rasanya melihat dan menganalisa tindakan orang. Samtaims gag masuk akal banget tapi ya there are always some stories behind everything 🙂 .

Udah ah!

Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: