Archive for April, 2008

lagi-lagi ada buah simalakama

gimana ya? solusi yang diberikan beliau berdua, solusi yang diharapkan akan aku jalankan dengan suka cita, ikhlas, rela, tulus, dan gumbira blom bisa aku penuhi, dan aku pun tidak menolak permintaan beliau berdua.

aku tidak bisa memenuhinya bukan karena hitung-hitungan, bukan karena gag mau rugi tapi semata karena masih ada marah, jengkel, kesal, emosi, gag suka, gag percaya, gag yakin, dan gag bisa. gag ada urusannya sama uang, materi, kasih sayang.

udah pesimis bahwa apapun yang outsider (including me) coba lakukan akan bisa membuat perubahan dan perbaikan.

tapi diam aja pun rasanya salah.

diam saja dan tidak memenuhi permintaan beliau berdua untuk melaksanakan solusi tersebut akan dilihat sebagai ketidakikhlasanku terkait dengan uang, materi, dan kasih sayang. dan supaya penolakanku ini bisa dimengerti, aku harus menceritakan semua hal yang selama ini aku tutupin, dan itu juga bukan hal yang hatiku sreg untuk melakukannya, dengan menceritakan semua rasanya malah memancing masalah baru dan tidak menyelesaikan masalah sekarang.

walopun ya aku sendiri pun berprinsip keterbukaan dan kejujuran itu penting and will help alot tapi tidak menutup kemungkinan akan muncul masalah laen yang lebih parah.

d’oh!

dan sekarang ini pressure untuk segera menjalankan solusi dan misi tersebut semakin menguat sedangkan hatiku blom mantap, baik untuk menurut ataupun untuk terbuka dan menyiram minyak tanah ke bara api ini.

*berpikir lagi*

a question that oh so our age! hihihihihi… :P

Menurut oknum L*lis, pernikahan itu adalah wanita dan laki-laki dipertemukan jadi satu trus punya sebuah keluarga, punya anak, punya hidup sendiri di luar keluarga kandung jadi bener-bener mandiri. usaha punya keluarga, mengatur ekonomi, hidup bareng orang laen.

Menurut bruder, pernikahan adalah membuat suatu ikatan dari yang berserakan trus dilengkapi dengan komitment yang jelas, dilakukan dengan sadar, di mana harus ada cinta, kasih sayang yang tulus dari dasar hati.

Menurut oknum Di*a, pernikahan adalah anugrah karena kita menghadapi hidup bersama seorang teman.

Menurut oknum Yas*r, pernikahan adalah lebih dari penyatuan dua diri bahkan lebih dari penyatuan dua keluarga, lebih dari sekedar cinta yang membuat kita meledak-ledak, dan juga lebih dari penyempurna hidup. dan yang paling penting pernikahan itu adalah sunnah yang gag suka sunnah Nabi bukan golongan Nabi dan artinya dia gag bisa ikutan masuk surga bareng-bareng orang mukmin yang laen (ekstrim gag siyh!). orang yang sudah nikah tingkatan ibadanya lebih tinggi daripada yang belom, setingkat lebih tinggi dari pembujang lantaran cobaannya lebih banyak dan komples karena makin tinggi po’on makin kencang tinggi anginnya.

Menurut oknum Nug*e, pernikahan adalah ikatan sebuah kehidupan antara pria dan wanita bukan muhrim untuk memenuhi perintah agama. ikatan dua hati pria dan wanita untuk saling menjaga dalam lingkungan yang dihalalkan. ikatan pria dan wanita, melebihi hubungan apapun, yang haram jadi halal, proses menjaga hati dan kepercayaan. ya pada intinya, pernikahan itu merupakan perwujudan tanggung jawab seorang pria atas wanita yang dicintainya.

Menurut oknum yang sudah 15 tahun menikah dan dikarunia 3 krucils *waving hands ke mba 😀 *, pernikahan adalah persatuan dua pribadi dalam satu ikatan dengan pola kehidupan baru sesuai dengan prinsip dan keyakinannya dan tergantung kedua belah pihak akan membuat pola di mana satu pihak kuat dan satu pihak lemah atau kedua belah pihak bersinergi.

wow!

sebenernya berniat menanyakan ke ortu karena pingin mengumpulkan pendapat dari beberapa generasi. setidaknya pendapat di atas sudah sedikit mewakili dari generasi adikku, generasiku, dan generasi kakakku.

jadi mungkin nanti bakal di-update atau malah ada part deuxnya.

huff…

pernikahan. hm… bener-bener a topic that oh so my our age, bukan? 😛

menghadap ke kiri, “kapan nikahnya?”

balik kanan, “lho, kok blom prepare buat segera nikah?”

nyungsep di bawah, “eh, kupikir sudah nikah, belum tokh? jadi kapan?”

mendongak ke atas, “nikah euy, nikaaahhh! kapan?”

serong ke tenggara, “hun, nikah yuk?”

*ketok-ketok meja*

pernikahan.

yah, oke… merupakan persatuan dari 2 paket individu dengan segala complexity-nya.

pernikahan.

dua menjadi satu yang tetap dua.

pernikahan.

kesediaan untuk berdua, setiap detik/menit/jam/hari/minggu/bulan/tahun/abad 😀 beriringan dengan orang yang sebelumnya asing menjadi harus mengikutkan sosok tersebut dalam semua langkah dan aspek.

pernikahan.

kesediaan untuk meleburkan ego.

pernikahan.

kompromi, komitment, penerimaan, kesabaran, pengertian, penghargaan.

er… iya, ya my long complex way, again 😛 .

haiyah, cape deyh eike!

uhm…

test…test…

1…2…3…

test…

anjr*t! anj*it! an*rit! *teriak kenceng membahana*

huh! huh! huh! huh!

woi…kenapa jatohnya jadi aku yang harus menjemput bola?

kenapa jatohnya jadi aku yang harus aktif?

kenapa jatohnya harus aku yang bertanggung jawab?

kenapa jatohnya harus aku yang beride?

oke! memang aku lebih punya banyak ide dan inisiatif dan punya kemampuan berkata-kata yang lebih terbukti dibanding pihak lawan tersebut.

but excuzes moi, kalo boleh saya ingatkan, ide ini datang dari siapa coba? ide ini di-amin-i dengan persetujuan siapa yang jadi pihak aktif dan siapa yang silent (me!), bukan? ide ini pun tidak ada klausa “dimungkinkan adanya pertukaran posisi keaktifan”, bukan?

so why me?? tell me, why me?

*knocking on the wood*

perlu saya ingatkan lagi tentang ketidaksetujuan saya yang sebenarnya sudah saya utarakan dari awal terbentuknya ide ini?

so why me??

kenapa jadi aku yang bertanggung jawab atas kemandegan dari air yang diharapkan terus menerus mengalir ini?

si*l! s*al! *ial!

ugh!

dan kenapa saya jadi sekesal ini?

karena kemandegan ini mendadak dilemparkan sebagai suatu kesalahanku, suatu tanggung jawabku! how come?!

perlukah saya acungkan semua bukti yang saya pegang tentang betapa saya tidak pernah berniat dan melakukan apapun untuk menyebabkan kemandegan ini? bahwa saya malah terus menerus meng-encourage pihak laen untuk melakukan apapun langkah yang dikiranya bisa dan perlu dilakukan? bahwa saya selalu membuka jalan positif untuk mempermudah langkahnya? perlukah bukti tersebut saya bendel, laminating dan saya sebarkan ke semua orang yang dengan serunya menuduhku?!

aduh bo cape’ deyh eike fikirin gosip (dan) hal ini!

*knocking on the wood lagi*

hoi! kamu! iya, kamu! gag perlu pura-pura clingak-clinguk! kamu! tanggung jawab donk!

huh!

ehm…

ehm… *pinjam dehem penuh wibawa dari bapak di rumah*

mungkin memang aku diplot sebagai orang yang mengurusi hal-hal yang berada jauh di atas ambang kenormalan dan kewajaranku kali ya?

gag protes tapi bingung dan gag PD atas solusi yang terpikir dan aku berikan. karena rasanya kurang nunjeb, kurang nendang, dan gag terlalu parfait!

aku blom married, blom punya anak, gag punya pengalaman dealing with someone’s heart that deeply tapi sekarang malah diamanahi untuk ikut serta menyelesaikan masalah keluarga.

kedua pihak yang bertentangan berharap supaya aku bisa berjalan di tengah dan menjembatani mereka semua serta pihak A ingin aku bisa membuat pihak B menuruti apa kata mereka dan vice versa. sementara, untuk mewujudkan semua permintaan mereka itu aku harus melakukan satu hal yang untuk saat ini aku tidak bisa, karena ada egoku, dan juga karena aku maen perasaan juga. sedangkan untuk menolaknya, ostomastis aku harus bercerita alasanku, dan itu juga susah, karena kalau aku bercerita bisa membuat pihak B akan semakin salah dan pihak A bisa sport jantung. deuh…

pada akhirnya aku cuman bisa bilang, “huuh! jadi takut untuk married.”

*siul-siul di depan semua pihak*

😛

whose next?

ada satu kekhawatiran tersendiri bahwa jurnal ini sudah diketahui oleh mereka-mereka yang berada di sisi kehidupan nyataku yang aku gag berharap, gag ingin mereka mengetahui jurnal ini.

semisal: dari lingkungan kerjaan.

kenapa? karena akhir-akhir ini di history jurnal ini, sering ada yang searching dengan keyword, “catur imas lia sakuntala”. siapa yang searching?!

ya, iya siyh… once i write on internet, there is no such thing called “privacy” anymore. terbukti dengan diketemukannya jurnal ini oleh teman masa kecil, teman SD-SMA *waving hands ke Arif*, whose next?

tapi yah penyakitku karena masih blom bisa menerima “keterbukaan” dari sang internet ini yang membuat aku merasa (lagi-lagi) tidak nyaman dengan history keyword “catur imas lia sakuntala” tersebut 😐 .

anyway, masih berasa tegar siyh kalo the one who’s searching me is only my friend (entah friend yang mana lagi 😛 ) tapi jika orang di lingkungan kerjaan? d’oh… kemana lagi aku bisa mengumpat, marah-marah, membunuh, doing my office vodoo terhadap semua kerjaan, tanggung jawab, masalah, dan kekacauan yang aku pikir ada dalam lingkungan kerjaanku?

(lagi-lagi) aku merasa tidak bebas tapi sudah males banget buat pindah jurnal lagi karena tidak menyelesaikan juga tokh?

sama seperti keinginan untuk pindah kerja.

yah, bukan berarti aku sudah sangat nyaman di sini sehingga masih perlu memikirkan lagi dan lagi serta lagi keinginan untuk pindah kerja. tapi kalau alasan kepindahanku ini salah, rasanya males juga.

kalau sekarang ini, 80% alasan keinginanku untuk pindah adalah salah. walopun jika dipikir alasanku untuk stay pun sudah tidak kuat lagi. mari kita lihat:

  1. karier; er… udah mentok, bukan? unless aku mau pindah ke Jakarta which is thanks, but no thanks 🙂 . dan kemana lagi aku harus meningkat jika sekarang sudah di posisi sekretaris. jadi bos kecil di surabaya? hore! 😛
  2. kepuasan; um… sekarang sih merasa sulit untuk menilai diri ini terpuaskan secara batiniah dari sisi kerjaan. karena sudah merasa did not learn anything new. kecuali aku yang suka memanfaatkan waktu luang untuk browsing dan searching bahan-bahan untuk belajar bahasa planet a.k.a parlez Francaise dan jepun 😐 .
  3. uang; eh, aku digaji yak di sini? hihihihihi… um… gag enak mau bilang tapi rasanya sekarang yang didapat juga garing kalau hanya duit. karena duit jadi berasa gag berarti kalo otak jadi mampet gini 😐 .

hna…dari 3 point utama di atas sudah tidak ada positifnya lagi. jadi kenapa gag segera pindah?

karena…

masih merasaaaa banget bahwa keputusan untuk “pindah” adalah keputusan emosional banget! karena pingin lari dari masalah.

mostly because i just want to run away from the current situation. gag peduli betapa sudah tidak ada alasan kuat untuk bertahan di sini lebih lama lagi.

trus nanti di tempat baru, aku juga akan behave begono? males banget, bukan?!

yah, selain juga blom dapat lokasi kerjaan yang lebih baik siyh 😐 .

dan jurnal ini yang dulunya lumayan sangat membantu untuk stay and eager facing that problem here, jadi berasa tidak banyak membantu lagi gegara adanya kekhawatiran atas “no longer privacy” di sini.

d’oh… dan kenapa aku persulit gini siyh?

heran deyh!

a nice idea this morning

it is my right to like/love/hate/dislike someone, everybody’s right dink 😀 . just like yesterday when suddenly i felt so uncomfort talking with a lady who was sitting right beside me. why? i had no reason. i just felt she was so annoying with the way she talk, the way she said her opinion.

am i wrong for having that kind of feeling without no reason to somebody whose i even dont know well?

maybe.

but i think, it is such a common thing that happen in our circumstance tokh? seperti dulu pas kuliah diajari bahwa setiap orang itu mempunyai efek “halo” yang berbeda. maybe in this case, efek halo si ibu itu berasa negatif ke aku.

it happens many times yah. many times di mana mendadak aku merasa gag nyaman, gag suka, terancam, terhadap kehadiran seseorang, gag peduli aku telah mengenalnya atau blom mengenalnya sama sekali.

sebagaimana juga pagi ini di mana mendadak (lagi) merasa tidak suka terhadap sopir angkot yang aku naiki. for yelling out loud to a person with no reason, for having a bad conversation with me, for trying to flirting on me ( 😐 ) tapi entah kenapa aku tiba-tiba teringat…

meskipun aku bener-bener tidak menyukai sopir angkot kuning pagi ini.

meskipun si bapak itu bener-bener tidak sopan padaku.

meskipun tingkah si bapak itu juga ajaib di mataku.

meskipun si bapak itu gag behave sama sekali.

meskipun si bapak itu ugal-ugalan banget pas bawa angkot.

meskipun si bapak itu sukses bikin aku pusing dan nyaris muntah.

tapi…

somewhere out there, pasti ada seseorang yang amat menyayanginya.

entah itu sodara, orang tua, teman, istri, anaknya…

seseorang yang menganggap he’s the nicest person in the universe dan gag akan peduli bahwa ternyata ada makhluk laen yang lebih baik dan lebih manis yang mengutuk keberadaannya di dunia ini (which is me 😛 ).

dan somehow, menyadari hal tersebut, memikirkan ide tersebut, membayangkan ada orang laen yang menganggap he’s the superhero…

hatiku melembut…yeah, it’s softened…

rasanya, sikap ugal-ugalannya itu bisa aku maafkan…

senyum manis pun aku hadiahkan untuk si bapak tersebut…

today’s conversation

what the !@!!$%$%^%&^&^&$

got this kind of question from my ex’s friend.

napbon: klo ktmu co suka di kiss ya bu … ?
napbon: suka di masakin apa co bu … ?
napbon: makanan paporitnya .. ?

my responds? oh, it will always be about flying cows even i have a lot of version about ways to answer that magic-married-thing-question but definitely flying cows is the best answer.

maybe i should make a “tutorial of how to answer that-married-question”. sounds good idea yak?

back on my case.

that question, the way he asked me. it amazed me. (and it shocked me too for my impulsive way of putting a bold mark in “my ex’s friend”, why?!).

i mean, we’re not close enough, and as i remember, he knows a lil’bit about me and my ex. oh, puhleeasee… i had told him that i and my ex already break up after a year or two and i told him not in a way of “oh, Opik…tell me why i am so unblessed, for having this hard and real break up with him! it’s unfair!!” no! i did not told him in that way. in fact i told him smoothly by, “yup, we already breakup somewhere on november but we still have a nice relation, he’s a good guy and a good person tokh?”, in that way.

what distract me so much in our talking today is the way he asked me about that married thing.

i never consider a boy, a man, a guy could be so talkactive! (please put a zillion “o” on “so”!)

and why bothering himself for whether i already have a boyfriend now? whether we like to kiss each other, whether i like to serve my handmade cook, what is his favourite kind of food?

why?

did he want to serve any handmade food to my boyfriend too? er… who the hell is he to my boyfriend?

ya, ya…kissing, hugging is a common thing in any love and relationship. but do you think it is important matter to ask that question to other? no?

for me, it’s weird.

ok, ok… a full version of our conversation yak:

napbon: trus ibu kapan .. ?
me: waaaa…… Pi*, sapi terbangnya ada 10 lhoh…
me: liat itu lhooo…..
napbon: sama orang mana bu … ?
me: wohaaa…… sapinya itu totol2nya pink! bukan hanya hitam putih, tapi pink putih! seru deyh….
me: ada gag di langitnya Opi*?
napbon: namanya sapa bu .. ?
napbon: kok ga di kenalin, sombong nih ..
me: Opi* Opi*… liaaatttt… sapi terbangnya mulai salto!!!
me: liatttt!!!!!!
me: *paksa opi* ngeliat ke langit*
napbon: <<– dari sini langitnya ga keliatan ..
me: rugi!
napbon: jadi sapa  bu ..
napbon: kenalin donk
napbon: kaya gimana orangnnya …?
napbon: apakah yang suka nelpon2 ibu ..
me: errr…….. sapi terbangnya terpecah jadi 2 golongan. yang satu masih jejumpalitan alias salto, yang satu lagi joget-joget bareng gitu deyh……
napbon: namanya sapa bu … ?
me: idiiiiihhhhhhhhh… sapinya ada yang mau turun, tapi cuman 1 doang……
me: lutju deyyyyhhh……………….
napbon: dijodoin ya bu … ?
me: waaaa….. ada yang dadah byubye….
me: seru..seruuuu…………………
napbon: tp yang di jodoin ma ibu bukan sapi kan … ?
me: ahahahahhahahaha….sapinya pinter! ngerti kissbye juga!
napbon: atau nama co nya ibu sapi …. uidin
napbon: klo ktmu co suka di kiss ya bu … ?
napbon: suka di masakin apa co bu … ?
napbon: makanan paporitnya .. ?
me: hee?
me: errr……sapinya kok bilang pingin nendang opi* yak?
me: wow! what kind of question is that, Opi*?
napbon: bentar ya bu, di tinggal dulu
napbon: salam aja buat sapi nya …

please, pay attention to the line that i put in bold.

kenapa ya bertanya itu? seingatku aku tidak pernah curhat ke teman satu ini tentang edisi perteleponanku, baik yang mengganggu ataupun yang menyenangkan, dengan para teman lakiku.

*berpikir*

argh… please, somebody?! put me back on a right track without any suspicious to my ex’s friend and my friend!