Archive for May 6th, 2008

bayar utang ke si ibu itu :)

eh, memangnya aku harus laporan di sini yak?

oh… harus? *manggut-manggut*

ok, yesterday lumayan seru, skala 1-10 bisa 8 dan ini sudah penilaian murni tanpa euphoria apapun seperti biasanya 😀 .

kesan yang paling nempel adalah kebaikan, kesopanan, kecuekan, dan ke-PD-annya.

dengan you-know-who-yang-namanya-tidak-boleh-disebutkan-di-sini, mereka punya package yang serupa, yah sepupuan lah tapi kemaren bener-bener mempunyai kesan yang beda jauh dengan you-know-who tersebut.

ketika masuk counter jam tangan bermerk, yang kemaren bisa asyik dan PD serta cuek beibeh untuk mengobrak-abrik dan mempermalukan dirinya serta membuat jutek mas-mas sales-nya sedangkan aku yang ditarik-tarik untuk ikut masuk, menemaninya, dan menanggung malu, lalu ke butik baju cowok M2 or samting laik det (gag memperhatikan secara terkesima sama si mas salesnya yang aduuuh cakep! 😀 ), juga cuek pegang ini itu, liat harga, mematut diri di depan cermin trus ditinggal aja sambil bilang “makasih ya mas.”

oke, ada satu point ttg PD, berani malu hingga malu-maluin 😀

selama jalan dan ngobrol, seru, asyik, gag jaim, bisa diejek dan bisa mengejek dalam konteks bercanda, bisa serius dan mendengar curhat colongan, yah, great aja.

pas di jalan besar, ride his godamn lovely and beautiful motorbike softly sampai berasa naek merci, heuheuheu… (merci bis damri, bu? yoih! 😛 )

gag komplain dan tetap berwajah jernih menanggapi kegemaranku untuk memberi arahan jalan secara mendadak banget 😛 (mungkin untuk menutupi kegemarannya sebagai Raja Nyasar kali yak? 😀 )

intinya, seru, asyik, gag jelas, gila, menyenangkan dan it’s ok buat temenan. titik period.

jadi bu, *waving hands to lilis* untuk sekarang bener-bener masih dipatok sampai tahap temenan, jangan dirimu membuat gara-gara gag jelas yak?

yang jelas, hore! next time kalo aku pingin maen ke Malang, ijin bisa turun dan aku bisa dengan jelas mengatakan alamat tujuanku di Malang, huehehehehehehe… *joget-joget seneng*

keajaiban dalam pertemanan. indahnya 🙂 .

*lempar sendal swallow kuning ke Lilis*

udah tunai yak utangku ini?!

😀

once a while in a day

Sisi selatan kota.

Membosankan. What a life

”Jadwal masuk pagi, Mas?”, sapa seorang tua yang sudah menemani pagiku selama 5 tahun ini.

”iya, Pak Tu’in, biasa jadwal monitoring mesin. Pisang gorengnya dibungkus, 2 ya Pak.”, jawabku sambil melihat-lihat wadah tempat gorengan.

oh, ndak sarapan ta?”, sembari memasukkan pisang goreng ke dalam tas plastik hitam untukku.

”bisa nanti sajalah, setelah monitoring ini. Sekalian nanti ngopi dan ngobrol sama bapak. Seribu ya pak?”, sambil mengangsurkan uang seribuan ke tangan keriputnya.

”Makasih mas. Semoga mesinnya ndak bermasalah.”, tersungging senyum senang di bibirnya.

”hehe… iya pak, semoga aja. Kerja dulu ya pak.”

Penuh kemalasan, kuseret langkah kakiku menuju gerbang pabrik.

*nock…nock…*

Saku kemejaku bergetar bertanda ada short message masuk.

*1 new message*

Life is suck, no?!

+628123456789

Cha

*klik reply*

Ya, sangat!

*message sent*

*message delivered*

Huah!

~~

Tadi pagi pukul 04:05

Adalah sangat menyebalkan jika terbangun dini hari dengan perasaan hampa tanpa mengingat mimpi semalam dan rencana seharian ini.

Bad mood.

06:30

Dua setengah jam menghabiskan waktu dengan banyak benong dan tanpa ide, akhirnya kuputuskan untuk menyapanya.

*new messsage*

Life is suck, no?!

*send to: +628123456788*

*message sent*

*message delivered

Tak berapa lama

*jreng…jreng…*

Layar handphone berkedip-kedip

*I new message*

Ya, sangat!

+628123456788

Bagus Lesmana

Ugh! Fast respond dari sasaran yang salah. Respon yang amat pendek dan membuat mood-ku tidak semakin baik.

Sasaran yang ternyata impossible baginya untuk mengetikkan kata-kata mutiara yang lebih panjang dan dapat memperbaiki mood-ku.

Dan kenapa pagi ini lipstick peach elegant lily 107 colors of delight kesukaanku ini warnanya sangat gelap?

Ugh!

11:30

Meeting yang sangat menyebalkan. Well, ok, aku bilang menyebalkan hanya karena tidak ada wajah engineer muda yang baru dan bisa membantuku membunuh waktu disaat para atasan sedang bercanda dan ngelantur tidak jelas talking something that out of topic yang tidak perlu aku catat dalam file notulen meeting weekly 060508 ini.

Ok, what’s next? Another silly-boring-day?

*tring*

Pelan terdengar suara notifikasi bahwa satu jendela terbuka di komputerku.

+.kafka_Dper@yahoo.com: “holla, Ren! How’s your day?”

Huff…Kafka, Kafka Dwi Permana, the IT guy from the next door. Timur kota. Dewasa, amat dewasa.

-. i_am_rena@yahoo.com: ”hi, Ka. Hariku? Seperti biasa.”

+. hm… seperti biasa? Kalo bukan hari yang buruk otherwise ini bukan Rena. Sorry, but who are you? I want to talk to Rena. Please, release her! I beg you 😉 .

-. haha… funny, ka.

+. wow, lack of emoticons today? 🙂 ada apa, Ren? Mau cerita?

-. um… i think and i guess i’m fine, nothing special. So… rasanya gag ada yang bisa aku ceritakan.

+. oh, oke deh. Tapi kamu tau kan di mana bisa menemukanku, anytime! Aku invisible aja yah? Anytime you need me, just say it. I’ll reach you as soon as I can. ok, dear?

-. no need, ka. I’m fine kok.

+. yada, yada… Rena ga boleh bohong. Dosa!

-. oke, oke. Thank you

+. Ren, i care about you. You know that?

-. ya, ya. Sorry Ka, ada kerjaan, gtg, bye!

+. Rena…

Jengah, selalu itu yang terjadi setiap terhubung dengan Kafka. He’s nice, a lovely guy. Sopan, perhatian, ramah, dan baik tapi entah kenapa semua kebaikannya tersebut tidak mampu membuat aku merasa senang dan bisa menikmati saat-saat berdekatan dengannya.

Selalu jengah.

Dan jengah.

Dan Kafka tetap bertahan dengan sikap baiknya tersebut tanpa mau peduli semua sikap menghindarku padanya.

13:20

*jreng…jreng…*

Layar handphone yang hari ini kuharapkan untuk RIP ternyata punya kemauannya sendiri dan dia pun berkedip padaku.

*1 new message*

Sebel! Gag penting! Bayangkan Ren, sekarang semua orang yang di departemenku sedang sibuk menghitung jumlah dana yang akan mengalir ke kocek pribadi mereka dari proyek yang baru saja goal ini. Bayangkan! Dana untuk kocek pribadi masing-masing bukan dana untuk proyeknya! Sebel!

+628883456789

Handi Saktyadiputra

*klik reply*

oh, ok. Memang menyebalkan. So?

*message sent*

*message delivered*

3 menit kemudian

*jreng…jreng…*

Layar handphone lagi-lagi berkedip dan entah kenapa kedipan itu menggangguku.

Iya kan, menyebalkan! Memang Rena paling mengerti aku. Gw sebel Ren dengan cara kerja ini, sifat mereka yang spt itu yang membuat gw malas kerja di sini. Kamu ngerti kan? Sebel!

Baiklah, berdasarkan pengalamanku, nada sms dari Handi yang seperti ini mengisyaratkan bahwa sekarang waktunya bagiku untuk membuka lapak konsultasi gratis. Baiklah Handi, what now?

Ya, aku tau hal seperti itu menyebalkan apalagi bagi seorang Handi Saktyadiputra yang punya idealisme yang tinggi. Lalu apa, Han? Jika dana itu cair, apakah kamu akan menolak bagianmu? Jika cara kerja di departemenmu seperti itu, dan sama juga di lembaga pemerintahan yang lain, beranikah kamu keluar? Now it’s your turn to answer.

*message sent*

*message delivered*

Dan tidak akan pernah dibalas dan dibahas lagi sampai nanti akan ada topik yang sama dalam proyek yang beda.

~~

Sementara itu, in the next building, di ruangan server yang dinginnya adalah kutukan.

“Woi! Kenapa, Ka?”, tanya Opik mengagetkan aku.

”Eh, kamu Pik. Gag kenapa-kenapa, kok nanya kenapa ke aku, ada apakah?”, tanyaku sambil menenangkan jantung yang masih terkaget-kaget.

Dengan postur tubuh yang kecil namun suara yang sangat kencang dan juga ketidakmampuan Opik intuk mengatur volume suaranya bahkan bisikan pun bisa sangat mengagetkan penghuni alam lainnya.

”alah, gak kenapa-kenapa gimana? Liat tuh kening lo, kerutnya nambah sepuluh! Lo juga bengong mulu, udah 10 menit gw ajak ngobrol tapi diam mulu, kesambet baru tau rasa lo!”, maksud hati Opik untuk tertawa kecil namun apa daya kelemahannya membuat dia tidak dapat mengendalikan saraf ketawa kecilnya itu dan membuatnya menjadi ledakan tawa yang membahana.

Aku sudah terbiasa.

”lhoh, lagian ngapain lo di sini? Dan sejak kapan lo masuk ke ruangan server ini?”, tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu kepada Opik.

”nah kan, nah kan! Ada kali 10 menit lebih gw udah di dalam sini. Dan dari masuk tadi udah ngajak ngobrol lo tapi lo yang ham hem ham hem aje! Pose diam-bengong-berpikir begitu, tua sebelum waktunya, om! Hidup itu indah, jangan dipikir yang berat-berat kalo ada yang ringan buat dipikir.

Kenapa ka? Servernya aman gini, ada masalah dengan cewek ya? Si Rena itu? Gimana, udah ketangkep?”, lagi-lagi Opik dengan filsafat ngawur dan bombardir pertanyaannya.

”Iya, tau lah Pik! Aku kurang baik apalagi coba ke Rena tapi bukannya semakin dekat, dia malah makin menjauh. Aku bingung. Aku udah memperhatikan dia, bersikap sangat sopan, sangat baik, memanjakannya, selalu membantunya tapi bukannya kepegang, Rena malah berasa makin jauh dan lepas, bingung!”, aku yakin mukaku saat ini adalah muka paling penuh beban karena Opik sendiri memandangku dengan kening berkerut dan setengah takjub.

”Hm… sorry to say ya Ka. Cewek itu punya sense dan intuisi yang hebat dalam menilai cowok, menilai kebaikan dan ketulusannya. Mungkin Rena melihat dan merasa kebaikanmu tidak didasari oleh ketulusan yang murni. Sorry tapi itu mungkin aja sih.”, ujar Opik sambil menatapku tajam lalu berlalu dan menepuk pelan bahuku.

Sial!

~~

Ini yang membuat aku semakin tertarik padanya.

Inilah yang membuat aku selalu tergantung padanya, pada pendapatnya walopun kata-katanya cenderung tajam dan penuh sarkasme tapi semua selalu benar adanya.

Hal ini juga yang membuat aku selalu berpaling padanya setiap kali bermasalah dan selalu dia yang pertama kali tahu.

Rena Pradnya Paramitha.

Gadis manis dan judes yang aku kenal pertama kali dalam penerbangan Jakarta-Surabaya sewaktu aku dan dia sama-sama selesai dari urusan kerjaan.

Ya, aku jatuh cinta padanya setiap saat tanpa peduli waktu itu sel otakku sedang secara tidak sadar maupun sadar lupa atas status resmiku.

Ya, aku tertarik, tergantung, dan tak bisa lepas dari pesona dan kejudesannya, tidak peduli betapapun tegas Rena bersikap padaku dan membatasi dirinya dariku.

Ya, aku cinta padanya.

Dan bukankah cinta itu buta?

~~

Masih 16:30

Kenapa setengah jam yang dinanti selalu terasa lebih lama dibanding 8 jam yang telah berlalu?

Hari yang datar. Semua rutinitas kerjaan yang terselesaikan tanpa masalah.

Datar. Kosong. Membosankan.

*jreng…jreng…*

*1 new message*

Ok, what now?

Would love to have a dinner with me tonite? I’ll pick you up at 7 pm, ok?

*klik reply*

Not sure about my mood but ok, I’d love too.

*message sent*

*message delivered*

16:50

Gosh, just 10 minutes left, but I cant stand it anymore. Sorry boss, must go home now before I’m going insane here.

~~

19:30 at Warung Buncit.

Jus sirsak dan jus jambu biji

Semangkuk soto ayam dan sepiring nasi campur

Dua manusia tanpa ekspresi.

+. Bad day ya?

-. Nope, just a boring day.

+. Something missing kah di hari ini hingga gadisku yang biasanya gag kenal tanda baca titik dan selalu judes jadi diam dan bilang boring?

-. Hm… gag tau. Salah tidur dan salah bangun sepertinya.

+. Masa’ cuman itu? Coba dirunut lagi, cha.

-. Yah, obrolan basa basi dengan Kafka. Curhat gag penting dari Handi, my God, aku harus gimana ya supaya lelaki beristri itu tidak setergantung ini lagi padaku? Sementara untuk bersikap diam menanggapi curhatannya rasanya bete banget! Gag tahan sama lelaki yang selalu mengeluh seperti itu!, and the most important thing is, seseorang lupa menutup hariku semalam, dan seseorang yang sama ini juga lupa menyapa dan membuka hariku dengan cinta ditambah lagi ternyata seseorang yang masih sama ini juga tidak merasa bersalah dan melupakan sesuatu. Kasian aku ya?

+. Hahahahahaha… sayaaaanggg…

-. Oh, satu lagi, seseorang itu sekarang menertawakan omelan gag pentingku.

+. Ahahahhaha…

Ehm, Ibu Rena Pradnya Paramitha.

-. Iya, Bapak Bagus Lesmana.

+. Listen to me, semalam I was desperately waiting for your luvly short message to close my day, and to make me sleep tightly. Pagi tadi pun aku menunggu sms indahmu untuk membuka hariku dengan penuh semangat. I want you to send me first.

-. Er… what?!

+. Iya, aku tau, sounds so selfish ya? Maaf, tapi I want it. Tapi alih-alih dapat sms penuh cinta, kamu malah mengirimi aku “life is suck!”, hehe… honey, it’s been a bad day for me too 🙂

-. Maaf, aku tidak pernah berpikir kalau kamu pun ingin aku yang memulai mengirimi sms karena selama ini selalu kamu yang memulai, bukan? Dan rasanya kita sudah terbiasa seperti itu, it’s nice, it’s fun, and I love it!

+. Iya, aku tau. Dan jangan meminta maaf, kamu kan enggak salah karena di sini pun ada sisi egoku yang ingin aku menangkan, maaf yah? Aku hanya terpikir dan takut hal kecil dan sepele seperti sms pagi dan malam ini menjadi satu hal biasa dan tidak berarti bagimu. Dan takut kamu terbiasa dan jadi tidak merasa something special dengan sms-sms tersebut. Maaf ya hun…

-. Bapak Bagus Lesmana, kamu tahu kenapa aku jatuh cinta dan sayang kepadamu?

+. Tau! Karena aku cakep dan menyenangkan.

-. I hate you for that 😛 . no, seriously karena your brain, there is a little part of your brain yang menyisakan ruang untuk memikirkan hal-hal seperti ini. That amazes me and I love you for that. Well, okay, okay… karena cakep, baik, menyenangkan, tulus, ramah, sopan, pekerja keras. Um… bukankah sekarang seharusnya waktu bagimu untuk ikut memujiku dengan lebih hebat lagi?

+. Rena, Rena… I love you! I love the whole package of you 🙂 .

By the way, ttg Kafka dan Handi, kamu mau aku datang ke kantor mereka? Dan bawa golok? Atau cukup via handphone aja?

-. Hah? Are you sure to offer me that kind of action?

+. Nope, aku tau dan yakin kemampuanmu untuk menyelesaikan mereka berdua. Aku hanya perlu melihat dan menunggu, bukan?

-. You know, I love you for that 🙂 .

+. I know and I love you too 😉 .

~~

22:00 at my dark bedroom.

Phew… iya, kadang cinta semakin lama hanyalah berisi kebiasaan dan rutinitas dari hal-hal kecil dan sepele yang karena sering, selalu, dan terbiasa dilakukan sehingga kehilangan maknanya. Hal-hal kecil dan sepele yang sebenarnya sangat indah yang karena faktor terbiasa tersebut menjadi suatu hal yang lumrah dan wajar terjadi. Padahal jika kita bisa memaknai hal kecil dan sepele itu menjadi satu hal yang luar biasa dan indah, cinta itu bisa terselamatkan dan semakin terasa indah.

“I love you, Ren *big bear hugs*. Semakin berasa istimewa, bukan sms malam ini?  🙂

”Bapak Bagus Lesmana, i love you too and thank you for remind me. It will always be a special msg for me  😉 “

“naa… I love you once, dear.”

“hm… I love you twice, babe.”

“uh, oh… I love you more, honey 🙂

“er… I know! I love you more than a gazillion box of chocolate!  😀   “

“d’oh… I love you more than my motorbike. Uhm, you believe in me tokh?”

“more than your motorbike? Arrrr yuuuu syuuuurrrrrrrr?? 😀   “

“hahaha… I love you Rena Pradnya Paramitha, luv u, luv u 🙂 , cant wait to see you luvly smiles tomorrow 🙂

“ 🙂 yup, see you tomorrow. And surely I love you too 🙂

~~

oke, baiklah. saya tahu betapa ketersediaan kantong plastik hitam sudah menjadi suatu keharusan yang mutlak adanya di jurnal ini.

jadi, silakeun diambil bagi yang membutuhkan tas plastik hitam. ada di pojok kanan itu lhoh 😀

hehehhehehe…

je suis lieur nee…

oh ya, btw, nomor henpon dan alamat email itu asal aja loh, kalo ada yang sama, ya maaf… silakeun komplain 🙂