Archive for May 21st, 2008

ridiculous

26, seharusnya adalah satu ukuran yang sangat mantab dan tak terbantahkan atas kedewasaan dan kestabilan emosi serta satu monumen tak terbantahkan atas kenyataan bahwa saya sudah…

tua.

tapi kok ya masiiih saja, tetap saja bandel untuk selalu tergopoh-gopoh, panik, tidak tenang, blingsatan layaknya cacing kepanasan setiap ada satu hal unusual yang membuat rasa tidak nyaman terasa sekali.

26, seharusnya adalah bukti nyata bahwa seharusnya saya sudah sangat mengenali diri dan semua pola yang telah terukir selama 26 tahun ini.

bahwa semua, semua, dan semua yang terjadi (menyenangkan maupun suck) hanyalah suatu fase dalam kehidupan.

suatu fase saja. period. tidak kurang, tidak lebih. period. titik. tanpa koma.

26, seharusnya cukup matang untuk mengenali saat-saat di mana semua tingkah hanyalah karena i’m a great dramaqueen bukan karena memang suatu masalah antara hidup dan mati tapi hanyalah a matter of i’m a dramaqueen.

tapi gagal. gagal. dan gagal.

ingat, semua ini hanya fase, hanya fase!

jangan bereaksi dengan terlalu berlebihan.

you’re 26 yo. already a woman. a mature and an old lady!

inget roda? ya, inget aja terus.

fase!

F   A   S   E   !

uh… i love this person :D.

di suatu saat:

“er… kenapa siyh mereka pada demo? daripada sibuk demo, kepanasan, bikin macet, bikin kisruh dan rusuh, bikin kepala pusing, bikin banyak orang jadi pusing dan bete, dan segala macam alasan untuk tidak membenarkan demo terjadi, mending mereka do something much positive and nice. demo turunkan BBM tapi mereka konvoi ke mana-mana naek berbagai macam kendaraan dengan atraksi-atraksi untuk menarik perhatian yang useless banget, daripada demo, mending langsung melakukan tindak nyata yang bertujuan menghemat pemakaian BBM, habis perkara.”

5 menit kemudian:

“eh tapi, ya itu hak dan idealisme mereka siyh. mungkin mereka berpendapat dengan demo di alun-alun dan mengelilingi kota akan lebih efektif membuat tujuan mereka untuk mencegah kenaikan harga BBM bisa tercapai. mending mereka yang berani menyuarakan kata hati dan idealisme dibanding aku yang hanya diam dan do nothing selain grumbled alone begini.”

once upon a time:

“ini orang kenapa gag bisa diem seeh? emang resiko naek angkot kan ya kaya’ gini! mau nyaman seperti naek taxi?! mimpi kali ye! protes mulu aja si ibu satu itu, diem donk!”

2 menit kemudian:

“er… tapi kalo si ibu ini gag protes dan teriak-teriak, mungkin angkot ini bakal lebih kenceng lagi jalannya, lagian mungkin juga emang udah dari sononya si ibu ini tipikal cerewet, kenapa aku protes dalam hati begono yak? heran! biasa aja kali ya bu?!”

di suatu hari yang indah:

“duwh, kok ada ya orang sejahat itu? gag pikir-pikir kalo menyakiti hati orang laen. apa gag memikirkan kalo seandainya apa yang dia lakukan terhadap orang laen tersebut keadaannya dibalik, orang laen yang melakukannya padanya. apa tidak terbayang betapa dia akan menderita ya? jadi diana bisa menyikapi orang laen tersebut dengan cara yang lebih baik.”

10 menit kemudian:

“ergh… mungkin emang ilmunya blom nyampe ke tahapan itu kali yak? jadinya si orang jahat itu tidak berpikir betapa tindakannya tersebut menyakiti orang lain krn dia tidak membayangkan suatu keadaan yang terbalik. hebat ya aku, bisa sampai segini berempati dan ternyata aku lebih dewasa dibanding orang jahat tersebut. lagian, kenapa aku pusing? bukankah kita selalu memanen apapun yang kita tuai? jadi biar aja orang jahat itu berbuat apapun yang dia mau, Tuhan kan gag pernah tidur.”

dan berbanyak contoh kasus laennya.

i think i’m in love with that person.

orang yang selalu membuat excuses untuk orang lain untuk “menerima” apapun perbuatan mereka.

orang yang selalu mencoba untuk tidak tersakiti, apapun perbuatan yang orang laen lakukan dan sebenernya merugikan.

orang yang selalu mengarahkan logika dan hati untuk menganggap orang lain tidak bermasalah.

padahal kalo dipikir, bukankah hidup seperti itu justru akan berat? karena akan selalu merasa bersalah ketika menemukan celah untuk menyalahkan orang laen? karena bagaimanapun juga, menyalahkan orang lain (mungkin) adalah tindakan salah tapi tindakan tersebut bisa meringankan beban, apalagi ketika menyalahkan orang laen dengan landasan dan alasan yang tepat dan membenarkan tindakan tersebut.

tapi jika melakukan “permakluman” setiap saat, bukankah bukan hal yang baik? walopun iya siyh, jadi mengurangi konflik.

tapi segala sesuatu yang berlebihan juga buruk tokh?

ah, yang jelas i know i’m in love to that person!

😛

hei! mencintai diri sendiri itu harus, bukan?

i held a curse of being so curious.

apa memang harus begini ya? atau ini pengaruh kebiasaan, lingkungan, budaya, pribadi, prinsip aja?

i’m talking about any kind of relation between men and women which involved hati.

pacaran, TTM, suami istri, selingkuhan, you named it lah.

apakah memang tidak peduli seberapapun benar alasan, tindakan, argumen seorang woman tapi ketika dihadapkan pada kekeraskepalaan seorang man, tidak perlu waktu yang lama untuk berpikir dan memutuskan berkompromi?

tidak, bukan berkompromi untuk mendinginkan hati dan emosi sang man, tapi totally benar-benar menurut dan mengalah tanpa berpikir betapa sebenernya sang man bertingkah begitu hanya karena ego dan bukan karena tindakan, alasan, prinsip, ide man tersebut benar dan the best.

ingat, TIDAK MEMERLUKAN WAKTU LAMA UNTUK BERPIKIR DAN MEMUTUSKAN UNTUK BILANG “YA”.

ya, ya, ini seharusnya hal simple, common dan lazim terjadi, karena dalam segala bentuk hubungan harus ada satu ide untuk selalu berkompromi. i know.

yang menggangguku (setelah beberapa kali observasi dalam hubungan beberapa pasangan), kenapa kompromi itu dilakukan seolah tidak dengan memikirkan dulu apakah benar kompromi tersebut? kenapa kompromi tersebut dilakukan dengan membabi buta begitu saja tanpa pemikiran lebih lanjut?

dan pengamatan ini tidak berujung pada kompromi yang dilakukan demi untuk meredamkan emosi sang lelaki, bukan mengalah untuk menang. tidak.

rasanya kesimpulanku bahwa “i held a curse of being so curious”, adalah benar dan mutlak adanya.

dan kenapa hal-hal gag penting seperti ini memenuhi otakku? bukan kah lebih baik jika aku memikirkan menu masakan hari ini daripada memikirkan hal subjektif dan gag penting di atas?

ah, mari kita survei beberapa hotel untuk keperluan acara kamis besok dan bersemangat terkena sengatan matahari yang sumpe! panas! hiks…