moi non plus

huwa! cape! punggung dan bahu rasanya kaku dan kaku.

here we go! grumbled and complained! 😛

tadi pagi, pas di angkot dan menunggu angkot penuh, ada pemandangan yang menarik. oh, tidak, tidak… bukan pemandangan tipikal mas-mas cakep yang kissable atau towel-able atau cubit-able, bukan! tapi hanya pemandangan simple dengan tokoh seorang bapak usia 40-an dan anaknya usia 5 tahunan.

oke, diluruskan dulu yak karena kalimat di atas kebanyakan berasal dari asumsiku.

usia bapak 40-an, aku liat dari penampakannya siyh, tipikal penampakan bapak-bapak usia 40 lebih dan lalu melihat penampakan istrinya juga. dari mereka berdua rasanya kalo aku berasumsi mereka pasangan yang berusia 40-an, tidak bisa disalahkan.

anak si bapak usia 5 tahunan. kenapa aku yakin berasumsi bahwa si balita tersebut adalah anak si bapak tersebut? karena si ibu menyerahkan si anak tersebut ke si bapak dan si ibu sepertinya berkepentingan ke pasar melihat bawaan si ibu tersebut, sehingga si anak tersebut ditinggalkan di bawah pengawasan si bapak sedangkan si bapak asik ngeroko, ngupi, sembari baca koran lamer dan si anak asyik dengan mainan sepeda roda empatnya.

oke, got the point? bisa berasumsi dan membayangkan hal yang sama denganku?

setting kejadiannya adalah di pinggir jalan rame, si bapak bersantai duduk di dipan bambu di bawah pohon rindang tepat di pojok pertigaan rame dengan 3 senjata kenyamanannya yaitu adalah roko, kupi, dan koran lamer, sedangkan si anak asyik bermain di bawah si bapaknya.

dipan bambu itu posisinya tinggi ya kalo untuk anak balita, apalagi bawahnya adalah aspal bukan tanah basah macam di desa.

menit-menit pertama siyh gag ada yang aneh, cuman pemandangan bikin iri karena sepertinya dunia ini indah sekali kalo melihat si bapak yang bertelanjang dada, ngeroko, minum kupi sembari menikmati koran lamer yang isinya ya begitu itu.

sampai saat di mana sepertinya si anak itu bosan bermain sendirian dan berniat mengganggu bapaknya. maka si anak pun mencoba untuk naik ke dipan bambu which is unfortunately lumayan tinggi dan menyusahkan bagi si anak tersebut. dan yang terjadi adalah si bapak masih menikmati kenyamanannya meskipun si balita keukeuh berusaha menggapai si bapak.

dan bisa ditebak bahwa akhirnya si balita terjatuh dengan (sepertinya) kepala membentur tanah aspal. mungkin enggak keras siyh. but still it’s a child, what do you expect?

dan bukannya si bapak menenangkan si balita tapi si bapak malah menyikapinya dengan muka tegang dan memukuli pantat si balita.

phew! apaan coba? sebel!

lagi-lagi cerita seperti ini 😐

well, iya siyh, menyebalkan sekali jika kenyamanan itu terusik tapi emang si balita tersebut salah?! dan kenapa menyikapinya seperti itu?

jadi ya itu lah, aku marah-marah dan nyinyir di pagi hari ini 😛 .

gag habis pikir juga, masih ada ya orang seperti itu walopun kalo mau peduli sebenernya gag perlu orang asing untuk memberi bukti bahwa hal tersebut memang ada dan nyata.

and anyway…

ne le detestez-vous pas ??

(eh, bener ga ya? er…cuek ah 😛 )

sudah, balik fokus ke dokumen lagi dan kerja! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: