padhang mbulan

yo prokonco dolanan ning njobo
padhang mbulan, padhangé koyo rino
rembulané é, sing awé awé
ngilingaké ojo podho turu soré

~~

kangen euy balik ke masa-masa di mana masih dimaklumi dan dianggap lutju jika menyanyikan lagi itu.

pas malam ba’dha isya’, di halaman depan rumah, di bawah puun jambu air*, dengan minimal 3 anak, ditontoni sama bapak ibu dan para mbaks yang duduk santai di teras, siaran drama radio mak lampir yang kemrosak terdengar dari radio di ruang tengah, bintang gemintang yang tidak mengenal rasa malu (kalau tidak mau dibilang over PD dan bantji tampil), lampu petromak yang mengintip malu-malu dari arah ruang tamu…

kangen…

masa-masa damai itu…

masa-masa menyenangkan…

jadul yah? but i miss it so much! the atmosphere, circumstance, the play, friends, the air… semuanya!

memikirkan hal ini dan membayangkan 10 tahun kedepan, jangan-jangan di masa 10 tahun ke depan PS sudah dianggap jadul seperti halnya lagu di atas sudah dianggap jadul oleh anak-anak jaman sekarang padahal bagiku sekarang ini PS adalah hal ter-ter-ter-ter-termodern! yang pernah ada dan aku kenal… wah, blaén kii…

dulu, kalau tanggal 15 kalender jawa, saat di mana bulan purnama dan berserii banget bisa diibaratkan masa liburan karena jam bermain di halaman rumah waktu malam jadi diperpanjang.

enggak ada rasa takut sama sekali, meskipun rumah sebelah kosong, meskipun halaman belakang rimbun sekali, meskipun pemilik puun mangga manis di rumah sebelah kiri sedang PMS dan galak-galaknya, main ya main!

meskipun ada kunang-kunang lewat, meskipun tetangga belakang rumah baru saja meninggal, main dan bercanda dengan bulan tanpa bantuan listrik, tanpa bantuan komputer, hanya main dan berkeringat.

sempat membuat panggung-panggungan, dari untaian sedotan plastik warna-warni yang disambung satu persatu hingga memanjang lalu digantung dan ditata sedemikian rupa untuk menyemarakkan satu spot yang kita akui sebagai panggung. lalu bernyanyi. gag peduli gaya nyanyi ancur-ancuran. atau berpuisi dan berdeklamasi.

si mba dengan puisi andalannya, “Sabira hela miganda…” (hahahaha! jangan tanya apa artinya, karena mba pun tidak mau mengakui apa artinya jika ditanya, bahkan hingga sekarang 😀 )

sedang aku? lebih tertarik sebagai penata gaya dan penyiksa para temans  untuk maju dan menyanyi di panggung dan menjadi korban cela-celaan dari para tetangga 😛 (ah, sekarang aku tau asal muasal hobi menyiksaku 😀 ).

aahh… kangen!

dan tak lupa lagu satu ini…

Cublak-cublak suweng
Suwengé ting gelèndhèr
Mambu ketundung gudhèl
Pak jempol léda ledé
Sapa nggawa ndelikaké
Sir…sirpong dhelé gosong sir
Sirpong dhelè gosong

~~

permainan dan lagu yang SELALU ada ketika bertemu dan bermain dengan teman.

tidak peduli tempat, tidak peduli kondisi, tidak peduli situasi, dimanapun dan kapanpun.

ugh… kangen…

dan rasanya, tidak mungkin untuk memberikan kenangan indah dengan dua lagu dan permainan di atas untuk anak di 10 tahun mendatang. karena melihat keponakans sekarang yang bengong gag ngerti dan bengong gag minat setiap dikenalkan ke permainan-permainan jadul ini *sigh*.

beda jaman bow!

mereka rugi ya?

hihi… subjektif sekali 😛

yang jelas, kangen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: