jejak

ini rumah barumu. demikian aku mempersilahkan kamu.

dan ini pasti akan jadi sudut favoritmu. demikian pula aku mengenalkanmu pada satu pojok temaram dekat air mancur di kolam belakang rumah.

usang dan kusam. itulah komentarmu ketika membuka pintu rumah itu. (tak lupa akan kernyit di dahimu dan sudut bibir tipismu yang melengkung ke bawah)

kenapa begitu banyak retakan di dindingnya? itulah pula komentarmu ketika menelusuri jejak kehidupan di rumah itu.

ya, pojok ini indah dan pasti menjadi sudut favoritku. terlihat sedikit binar penuh gairah di matamu.

ijinkan aku duduk sebentar untuk menghayati roh rumah baruku di sudut ini. pintamu dengan binar penuh permohonan.

dan kau tepuk-tepuk serta kau tiup timbunan debu di bale kusam yang sudah ada di sudut tersebut, seolah debu itu adalah jejak kehidupan lalu yang ingin kamu hapus untuk kamu taburi dengan jejak kehidupanmu.

nah, sudah bersih dan nyaman untuk duduk di sini. duduklah denganku, di sampingku ini. pintamu.

sadarkah kamu, debu-debu itu tidak hilang tapi hanya melayang untuk sejenak saja lalu hinggap dan menitipkan nyawanya di sekitarmu.

selamanya menemanimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: