Archive for June 27th, 2008

it’s not it

-. anak itu mencuri uangku, Rp.5000,-. dan dia sudah mengakui kalau dialah yang mengambil uangku tanpa seijinku.

+. ah, hanya lima ribu rupiah saja, lupakan dan maafkanlah anak kecil itu.

-. bukan masalah nominalnya tapi aku tidak suka perbuatannya.

+. iya siyh, tapi kan dia masih kecil dan uangmu yang diambil juga kecil kan? jadi sudahlah, lupakan saja. cuman lima ribu rupiah saja gitu lhoh.

-. bukan nominalnya. sama sekali bukan masalah nominalnya. dan aku tidak marah karena uangku yang lima ribu rupiah yang diambilnya. tapi aku tidak suka atas ide bahwa anak sekecil itu telah mencuri. MENCURI itu point utamanya.

~~

akhir-akhir ini sering meradang hanya gegara hal seperti di atas. bukan, bukan hal bahwa uangku dicuri sebesar lima ribu rupiah.

tapi meradang atas ide betapa beberapa orang di sekitarku (dan mungkin juga aku) masih sering salah memandang suatu hal, mengambil point intinya. dan betapa susahnya untuk membuat beberapa lawan bicaraku tersebut untuk melihat dari sisi yang lebih luas, sisi yang berbeda tersebut.

seperti kasus di atas.

aku fokus pada point “MENCURI” sementara lawan bicaraku fokus pada point “NOMINAL YANG DICURI”.

dan karenanya aku dianggap tidak berbelas kasihan dan kejam.

kasus lain.

aku fokus pada point “JANGAN MEMANJAKAN” sementara lawan bicaraku fokus pada point “KASIHAN”.

jika saja tindakan atas dasar kasihan (menurut lawan bicaraku tersebut) dilakukan baru satu atau dua kali SAJA, maka aku bisa menerima dan memaklumi serta meng-amin-i tindakan berdasar rasa kasian tersebut tetapi karena aku tahu bahwa tindakan tersebut telah berulang-ulang terjadi sebelumnya, aku sudah tidak bisa lagi melihat tindakan tersebut sebagai suatu tindakan berdasarkan rasa kasihan semata. aku sudah positive melihatnya sebagai suatu bentuk pemanjaan dan ketidakberanian untuk bertanggung jawab, ketidakberanian untuk “bermasalah”.

dan karenanya aku dianggap tidak berbelas kasihan dan kejam.

please, put your shoes on mine.

do you think that i really have no mercy at all?

do you still think that no matter how hard i behave it’s all because i hate you and it’s because i have no mercy at all for you?

dont you ever consider and think that i take this side, i act this hard for you just because i care, love, and really want you to be strong and good? just because i want you to have a gut to deal with problems that you make.

oh, well, Tuhan, aku meletakkan koperku.

jendela

Jendela kusam yang terbuka itu akan selalu ada di dunia lainku. pemisah dan penghubung antara aku dan kamu. tempat kita tertawa dan merutuk, saksi tangis dan sindiran kita, korban amarah dan air mata ku.

pernah kamu membelakangiku, hanya memberikan punggung lebarmu kepada mataku. dingin. saat yang sama di mana aku tahu kamu sedang memandang mata seseorang. dingin dan pedih menghunjam di hati.

lalu suatu saat kamu hanya berdiri memandangku, tersenyum tulus, lalu mengembangkan kedua lenganmu sambil berucap, “kemari, lalui jendela tua itu. datang padaku.”

dan aku hanya memandangimu dengan seksama dari pinggiran jendela itu sambil tersenyum.

Jendela kusam ini, selalu terbuka. membiarkan angin bebas menebas menerobosnya. mengijinkan sapaan, tawa, tangis, umpatan, permohonan untuk melintasinya.

semakin lama semakin tua, kusam, rapuh. terbasuh embun, diseka matahari. mengunci mimpi, mematri asa.

Jendela kusam ini, dengan tambahan jejak hujan di sini, guratan waktu di sana. kokoh dalam kerapuhannya.

satu titik yang tidak terlawankan meskipun nanti suatu saat ketika dia roboh. dalam absurditasnya dia berkuasa.

mungkin di suatu senja yang indah nanti, sewaktu jendela kusam itu masih bertahan dalam kekusamannya yang angkuh, kamu yang akan bernyali untuk menyeberanginya dan merengkuhku. tapi jika begitu, kamu bukan kamu lagi.

pertaruhan dan pertarungan ini terlalu berat.

sudahlah, cukup di sini saja. cukup kita menikmati senja dalam rengkuhan jendela kusam ini. dan tidak membiarkan dia merapuh dalam sepi.

mungkin nanti ada jendela lain yang mengijinkan kamu seberangi.

tunggulah.