Archive for July 9th, 2008

Menjaga Silaturahmi? oh, really?

kata Rihanna:

“Don鈥檛 tell me you鈥檙e sorry ’cause you鈥檙e not, Baby when I know you鈥檙e only sorry you got caught…”

lately, begitu sering ucapan/excuses “menjaga silaturahmi” aku dengar. bukan, bukan bermaksud tidak setuju, menentang, dan mengutuknya. malahan setuju, dan suatu hal yang baik serta benar adanya. tapi entah ya, rasanya kok frase “menjaga silaturahmi” tersebut terlalu diada-adakan oleh mereka yang mengucapkannya padaku.

ah, terasa sekali how cynic i am ya? when it came to an open ended movies or books, i used to choose a romantic side to end it but now i become a cynic person, hihi… gag tau deyh, yang salah apa dan kenapa ada perubahan begini 馃槢 .

ok, back on the case yak.

akhir-akhir ini ada banyak orang yang mengucapkan hal-hal seperti, “maafin aku, imas. bla…bla…bla… tapi jangan marah ya? kan wajib hukumnya untuk menjaga silaturahmi bla…bla…bla…bla…”

oke, point untuk “menjaga silaturahmi” adalah satu hal yang benar dan harus banget untuk dilakukan. no comment dan memang aku setuju. tapi jika “menjaga silaturahmi” ini adalah hal sepenting yang mereka ucapkan ketika meminta maaf atas kesalahan mereka, kenapa tidak dari awal mereka menjaga diri dan menjauhi hal-hal yang membuat mereka jadi merasa bersalah padaku?

oh, tolong… jangan berpikir bahwa ini perasaanku sahaja karena aku berani posting (untuk postingan kali ini) setelah mengamati beberapa kasus, menelaah sikap, kata, perbuatan, dan tindakan mereka semua padaku. dan tanpa dendam, tanpa sakit hati.

itulah… aku hanya tidak mengerti saja, jika memang hal untuk menjaga silaturahmi telah mereka pahami sedemikian rupa hingga mendalam sekali, jika mereka paham betapa pentingnya hal untuk menjaga silaturahmi tersebut lalu kenapa mereka melakukan satu kesalahan yang bagiku impossible sekali jika mereka beralasan bahwa kesalahan tersebut tidak mereka sadari telah mereka lakukan.

karena kejadian dan kesalahan yang terjadi adalah bukan satu hal yang bisa dikelompokkan ke golongan “by accident”. justru kejadian dan kesalahan yang terjadi sangat menyertakan akal, otak, hati, dan rasa didalamnya and how old are they untuk tidak memberdayakan akal, otak, hati, dan rasa hingga satu-satunya tameng yang bisa dikedepankan padaku adalah “menjaga silaturahmi”. dan bukankah mereka adalah amat berpengalaman jika dibandingkan denganku jika dalam hal tersebut?

sebenernya gag masalah juga mereka mau beralasan apapun dihadapanku tapi yang menggoda nafsu amarahku adalah kenyataan kesimpulanku bahwa betapa orang-orang tersebut meringankan makna “menjaga silaturahmi” tersebut. seolah dengan adanya “menjaga silaturahmi” telah melegalisasikan apapun kesalahan yang telah dan akan mereka lakukan baik padaku maupun pada orang lain.

bukankah seharusnya “menjaga silaturahmi” dimaknai dengan kontinyuitas untuk menjaga persaudaraan, hubungan baik dan BUKAN HANYA dikedepankan ketika kita terjebak suatu kesalahan yang beresiko merenggangnya hubungan?

walopun tidak salah juga jika memperlakukan “menjaga silaturahmi” tersebut ketika terjebak dalam suatu permasalahan tapi ketika justru dijadikan tameng perlindungan, benarkah tindakan tersebut?

eits, sekali lagi aku ingatkan bahwa aku bisa bilang ini setelah melewati proses pengamatan sekian lama terhadap orang lain dan diri sendiri. mengumpulkan tindakan, perbuatan, respon, kata, dan pemikiran dari beberapa banyak orang dan bukan hanya kesimpulan emosional semata.

aku benar-benar tidak mengerti atas tindakan tersebut. menjadikan “menjaga silaturahmi” sebagai legalitas atas kesalahan dan kemanusiawiannya untuk alpa dan silap atas suatu kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja dari awal otak, akal, hati, rasa, dan pikiran telah diberdayakan dengan sejalan dengan pemahaman yang benar atas “menjaga silarurahmi” tersebut.

yuk kita telaah dari sisi etimologinya.

menjaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring adalah men路ja路ga v 1 menunggui (supaya selamat atau tidak ada gangguan): mereka selalu ~ kampungnya dng baik; 2 mengiringi untuk melindungi dr bahaya; mengawal: ajudan itu selalu ~ atasannya; 3 mengasuh (mengawasi anak kecil); 4 mengawasi sesuatu supaya tidak mendatangkan bahaya; mencegah (bahaya, kesukaran, kerugian): tugas mereka ialah ~ bahaya api; 5 mempertahankan keselamatan (orang, barang, dsb): pemerintah memperkuat pasukan yg ~ pantai; 6 mengikhtiarkan (supaya); mengurus (supaya): kita harus ~ agar pemasukan tidak lebih besar dp pengeluaran; 7 memeliharakan; merawat: ia ~ baik-baik neneknya yg sakit;

silaturahmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring adalah si路la路tu路rah路mi n tali persahabatan (persaudaraan)

bisa berpikir, bukan? dapat menyimpulkan, tokh? dari penjabaran makna di atas?

bahwa SEHARUSNYA MENJAGA SILATURAHMI DILAKUKAN DARI AWAL titik ketika garis kehidupan kita bersinggungan dengan garis kehidupan individu lain BUKAN HANYA DIJADIKAN TAMENG SERTA PENGINGAT UNTUK LEGALISASI KESALAHAN SAJA. walopun bukan suatu kesalahan juga jika mengingatkan untuk menjaga silaturahmi tersebut.

tapi ketika berucap, “sorry, aku salah. dari awal pun aku tidak bermaksud mempermainkan imas, jadi jangan marah dan jangan membenciku ya? kita harus menjaga silaturahmi, bukan? karena jika tidak kita berdosa. kita tidak mau berdosa, bukan?”

maaf tuan, yang bisa memutuskan siapa yang berdosa, siapa yang bukan dan berapa besar dosanya bukankah HANYA Tuan Hakim yang di atas sana? tuan tidak berhak sedikitpun, bukan?

dan ya, pada akhirnya juga aku tidak menyimpan dendam kepada mereka. marah siyh iya, untuk satu jam di awal lah tapi setelahnya juga sudah asyik aja, paling tidak untuk kasus berat hanya beresiko aku jadi sama sekali tidak bisa menghargai mereka dan sama sekali tidak bisa menganggap mereka ada. itu saja, jika seandainya sampai detik ini ada yang tetap aku diamkan, juga bukan atas pertimbangan dendam, benci, ataupun terluka tapi lebih ke arah untuk menjaga diri, diriku dan dirinya, serta juga bahwa aku sudah tidak respect padanya dan tidak bisa menganggap dirinya ada di dunia ini.

karena melihat sifat dan sikapnya (lagi-lagi, berdasarkan pengamatan pribadi yak) it’s useless juga untuk berteman dengan orang tersebut. walopun tetep bisa banget siyh untuk tersenyum tulus dan bercanda secara juga gag menyimpan dendam tapi ya with no respect at all aja.

dan akibatnya mereka menganggapku sebagai pihak yang TIDAK MAU DIAJAK KERJASAMA UNTUK MENJAGA SILATURAHMI? ah, like i care 馃檪

haha… the cynic me yak? 馃槢

dan ya, sangat, oh maksudku amat sangat teramat super duper mega ultra gemas sekali, kalau orang jawa bilang, “mentolo ngeplak ndhase!” terhadap dia dan dia yang menjadikan “menjaga silaturahmi” sebagai their last bullet untuk terselamatkan dari cemoohanku dan protesku.

kenapa ya, rasanya kalau dalam skala luas juga bisa disimpulkan betapa agama, islam in this case, juga sering dijadikan legalitas semata. seenak hatinya diambil ajarannya sejumput demi sejumput tanpa pemahaman yang amat mendalam dan berani meneriakkannya. iya kalau benar? kalau salah? akibat noda setitik, rusak susu sebelanga kan?

*sigh*

ada seorang teman yang jika dia berpikir dalam skema pikiranku sekarang, dia akan dengan gagah berani menutup postingan ini dengan…

“MENJAGA SILATURAHMI? EAT THAT SH*T!

menjaga silaturahminya siyh bener dan harus tapi jika hanya dijadikan sebagai tameng perlindungan, i’d probably love to say this too…EAT THAT SH*T!

*sigh*

dan maaf, correct me if i’m wrong… but you’re telling me you’re sorry just because you’ve got caught by me, bukan?

aha!

oh wait! i dedicated this entry to…hm… wait, to two persons. yes, it could be you.

yada, yada… the cynic me has spoken.