semakin eksplisit semakin jujur, benarkah?

nona cantik,

sudahlah, jangan berteriak bahwa kamu sudah tidak sayang, tidak cinta lagi pada dia yang dulu sudah mengukir sederet luka di hatimu.

sudahlah, tidak perlu berusaha keras meyakinkan aku dan siapapun temanmu bahwa kamu sudah melupakan dan memaafkan perbuatan jahatnya padamu.

sudahlah, tidak perlu juga untuk bermuka datar tanpa air mata dan bahkan tersenyum ceria setiap kamu mendengar nama dia disebut.

dan sudahlah, berhenti berusaha untuk bisa menyapanya dengan bersemangat.

sudahlah, hentikan semua itu, lalu jujurlah pada hati dan dirimu sendiri.

lalu kamu tuan nan budiman,

berhentilah juga berbohong padaku.

berhentilah menyapaku dengan penuh senyum-how-happy-i-am-being-a-father.

berhentilah pula bercerita dengan awalan, “hari ini aku bahagia sekali karena…”

berhentilah juga dari dzikirmu setiap hari dengan, “gila ya bu, menikah adalah keputusan gue yang paling tepat yang pernah gue ambil, gue bahagia banget karena…”

jika di lain kesempatan, pada orang yang beda…

kamu hanya bercerita betapa terkungkungnya dirimu.

betapa kamu merindukan geng norakmu dulu.

betapa kamu masih tidak bisa menikmati peranmu untuk mengganti popok, dan membuatkan susu buat bayimu.

betapa kamu merindukan rutinitas tidur-lagi-setelah-mandi-pagi-di-hari-minggu.

betapa kamu kadang tidak mengerti akan pemikiran istrimu.

betapa kadang kamu melupakan cinta yang dulu membuatmu bisa memutuskan untuk menikah.

berhentilah berbohong dan menyuarakan “kebahagiaanmu” di depanku jika kamu masih belum bisa menerima resiko dari keputusanmu tersebut.

nona cantik dan tuan nan budiman,

kadang tidak diperlukan suatu suara keras dan tindakan eksplisit untuk menyuarakan kejujuran dan kebahagiaan atas pilihan hidup yang telah diambil. tidak dengan teriakan keras lalu raut muka merah meradang dan otot tegang sambil berucap, “AKU SUDAH TIDAK CINTA LAGI PADANYA, AKU CUMA MENGANGGAP DIA SEBAGAI TEMAN!” atau dzikir setiap lima menit sekali dengan kalimat, “gag nyangka ya bu, ternyata benar-benar menikah adalah keputusan yang paling tepat yang pernah gue ambil, sekarang gue bahagiaaaa banget karena…”

karena sesungguhnya kejujuran dan kebahagian seperti itu malah bisa dinilai oleh orang lain dengan cukup melihat saja. tanpa kalimat. tidak diperlukan perbuatan eksplisit untuk meyakinkan mereka.

beside of that, nona cantik dan tuan nan budiman, buat apa juga kalian keukeuh ingin memperolah penilaian orang lain atas perasaan-sudah-tidak-cinta-lagi dan atas kebahagiaan untuk pilihan hidupmu tersebut?

kami hanya orang lain yang hanya bisa berkomentar dan bicara serta menilai. kami tidak menjalani hidup yang kalian jalani, bukan?

oh, well, i know… it is still me, the cynic me who’s speaking.

kata Joker dalam The Dark Knight,

Why so Serious?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: