aren’t we all?

Seneng deyh, seneng deyh, seneng! Hihihihihihi…

Oke, berlebihan kalau begini tapi…seneng! Kenapa?

Karena apa yang selama ini aku anggap benar di otakku, yang atas nama agama disanggah oleh orang lain (ok, setidaknya hanya 2 orang) yang mana dengan dasar agama tersebut pula mereka menempatkan aku as a sinner, and yup, i feel so terrible about it dan membuat aku meragukan kebenaran prinsip yang kuanut tersebut ternyata hari ini dibenarkan oleh seorang yang dengan dasar agama pula, dia memiliki kualitas yang tidak diragukan lagi untuk membicarakan hal tersebut.

Seperti:

+ imas, kamu durhaka sekali jika bersikap seperti itu, ingat gag hadits A? Jelas-jelas sikap kamu tersebut bertentangan dengan hadits A! Kamu mau masuk neraka?

– eugh, case per case lah. Jangan mencomot hadits sesuka itu. Dan jangan menyimpulkan seperti itu pula. Tidak semudah itu untuk menjudge orang lain.

+ apapun deyh! Yang jelas kamu salah jika masih bersikap seperti itu terhadapku. Aku memang salah padamu tapi jika kamu bersikap seperti itu, justru kamu lebih salah lagi. Jangan bersikap seperti itu, entar kamu dosa lho…

– …

Lalu…

– ust, mengenai hadits A dan jika saya bersikap begini dengan alasan seperti ini, salah ya?

+ haha, enggak lah! Gag bisa semudah itu untuk menyalahkan orang. Hadits A memang seperti itu intinya tapi jika dengan alasan itu dan sikapmu bertentangan dengan hadits A, bukan berarti kamu dengan mudahnya bisa diputuskan bersalah.

Ah, i feel so relieve this morning 😀

At that time, while listening to that lovely ustad 😛 , rasanya pingiiiin banget menghadirkan 2 sosok yang could be said “judge me” lalu membiarkan mereka berdua berdebat dengan ustad tersebut.

Ya, ya … ustad pun manusia dan ustad pun masih bisa salah tapi ketika diserang dari berbagai sisi dengan dalih agama lalu justru mendapatkan pembenaran dari orang yang hidup lebih dekat dalam kotak agama dibanding para penyerang, rasanya… senang! 😛

Oh, yeah… you may think that I defend myself. You bet deyh ah! Hihihihihihihi…

lalu acara wiken kemaren, it was fun. it really was 🙂 . oleh-oleh bagi otak yang sampai detik ini masih adem ayem wira-wiri di otak adalah pertanyaan, “apakah memang secara naluriah setiap orang itu selalu lebih mudah dan tergerak untuk dekat dengan orang lain yang setipe?” dalam artian on a first sight lhoh. yah, gegara bertemu dengan orang baru yang setelah bercakap beberapa lama ternyata we have so many things in common ajah. but it was great!

dimulai dari awal minggu kemaren, di mana 4 cewek ribut dan bersemangat sekali untuk meramaikan acara RW di wiken kemaren, eh, kecuali si raras denk secara dia jadwal rutin tiap minggu mah balik ke Malang ya buw 😀 . jadi ada tiyok, nuri, and me. jumat malam pun kita bertiga masih heboh dan bersemangat empat lima banget apalagi sampai jumat malam si nuri tetep tidak ada jadwal dadakan untuk minggu pagi (tidak seperti minggu-minggu biasanya ya bu 🙂 ). masuk ke sabtu malam, ributnya masih sama ya tapi entah kok rasanya semangat mulai menurun, hihihihihi… aku sudah mulai berpikir, “sudah, gag usah berharap bisa keluar bertiga deyh 😀 ” dan ternyata, minggu pagi pas jam 5 secara kita bertiga janjian untuk saling membangunkan tepat jam 5, si nuri dan tiyok sama-sama menjawab, “duwh, mba imas, gag jadi ikut yaa… pingin tiduran lagi nee.” huehehehehehehehehehe…

ya sud tokh, i was going ke tempat berkumpul sendirian dan yah, pesertanya banyak juga walopun hadiah utama hanya tivi 21′ mengingat di RW lain ada yang hadiah utama berupa yamaha mio. but it was great, ketemu orang baru, kenalan dengan ibu-ibu baru, mencoba masuk ke bahan rumpian mereka (which was failed lah 😀 ), dapat berbanyak vitamin yang menyegarkan. intinya siyh minggu pagi kemaren banyak mengucapkan “alhamdulillah”, hahahahahaha…

lalu ada satu sosok yang bikin penasaran banget, yang sebenernya memicu (ciyee bahasanya!) keinginan untuk ber-sms dan menanyakan satu topik yang bener-bener gag penting tapi gag jadi siyh secara pemandangan banyak yang perlu disyukuri gitu 😛 . sayangnya, sumber info di RW tersebut tidak terlalu tuob karena hal yang membuat aku penasaran malahan tidak terjawab sama sekali. eh, atau aku yang kurang handal dalam mengorek keterangan dan mengajukan pertanyaan yak? 😛

Anyway, fun and narcist conversation with a dear friend of mine happened last weekend through a short message and then a narcist call 😀 .

He sent me this question:

+ eh, bu.. lo prefer mana defeat someone (yang menurut lo adalah target operation “harus lo kalahin”) or defeat yourself?

– absolutely defeat myself lah pak 🙂 . why?

+ yourself? Yakin? Kenapa gitu?

– yup, 100% sure. Um… you ask why? Well, why not?! 😛 I think for many reasons kali yee 🙂

+ which are?

– eugh, you’re not going to give up until I said what’s in mind yak? Hehe…

And then he called me.

+ yaelah bu… hobi banget siyh memperpanjang percakapan? You’re not going to change our subject tokh?

– hihi… selama ada jalan untuk menunjukkan kenarsisanku, maka semua subyek percakapan akan aku arahkan ke arah narsismeku 😀

+ eeh, plis deyh! Bosen kaleee…

– ahahaha… but you like it, dont you?

+ um… I’m not going to answer that question before you answer mine. So?

– hihihi… yup, 100% sure that defeating myself is much more interesting than defeating somebody else. Like you 😀 . why? Not because you’re not interesting to be defeated but it just that our selves are much more interesting, rite? Knowing our selves, acknowledging our weakness is way more complicated and hard to do, rite? And how can I defeat somebody else if I can not defeat myself.

+ hm… interesting. Thanks ibu. It’s been always such a great pleasure to talk and debate with you, hahahahaha…I like you 😀

– you like me? Oh, no wonder. I knew it since the day we met.

+ argh, anj*rrr… narsis lagii!

– narsis? Who? Me? Enggak kalee… I’m talking about fact loh. It’s a fact, rite? You said it by yourself. Ahahahahahahha…

+ iye, iye… lu tu ye! Tiada detik tanpa narsis gini!

– tapi suka kaaannn, huwahahahahahaha…

+ eugh… give up!

– hehe… seriously, kenapa gitu nanya hal gag penting spt di atas? Heran deyh, orang IT kenapa nanyanya macam ginian yak? Dulu salah jurusan ya mas?

+ hehe… nope, just something in mind aja. You have the same idea with me but surprisingly, a lot of friends think that defeat others are much important and fun to do.

+ hmm… I dunno, kesannya mengalahkan orang lain seolah bahwa penilaian keberhasilan dari masyarakat dihitung dari siapa yang kita ungguli, well, itu yang kutangkap dari alasan2 mereka siyh, sementara mengalahkan diri sendiri, dari alasan ibu dan sedikit penilaian dari diriku sendiri, rasanya kita berdua mengakui bahwa there is something wrong with our selves that’s why we think that defeating our selves is much important. Begitu bukan, bu?

– hm… “merasa masih ada yang salah dengan diri kita sendiri”? aren’t we, all?

+ er… iya ya? Aren’t we all? Haha… thank you ibu for the enlightment. Jangan keseringan narsis yak? Basi tau!

– yah, basi siyh. Tapi masih ada yang meresponsnya dengan menyenangkan kok, ahahahaha…

+ d’oh, sial! Yo wis, ik mau balik pacaran lagi yee…

– aih, aih… jij ganjen sekali siyh 😀

+ ketularan ibu, bukan? Hahahahhahaa… skor sama!

– damn!

Well, well… aren’t we all?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: