at the end of this day.

semalam topik ceramah tarawih adalah mengenai how to be a good women dan good dalam artian yang benar-benar sholehah (dengan big S ya).

kalau dalam islam, wanita itu jika sudah menikah harus menurut pada suami, bukan?

ya, ustadnya semalam membahasnya dari sudut pandang yang itu-itu saja. dengan konsep dan pemikiran yang sudah jamak diketahui juga. nothing new.

dan komentarnya juga sama, “jadi ibu dan mbak semua, itulah kriteria wanita sholehah. berbahagialah mereka yang bisa benar-benar menurut pada suaminya karena surga balasannya.”

dan sepanjang ceramahnya tersebut, beliau bener-bener ngasih contoh-contoh kasus yang indah siyh, cuman rasanya gag cocok diterapkan di jaman sekarang ini.

er… gag menentang konsep tersebut siyh. tapi aku berharap sang ustad tidak menutup ceramahnya dengan klosing yang bener-bener memenangkan sisi lelaki (oh, please… feminist? go a head, put that tag on me. dont care.)

kenapa seolah dikesankan, “kalau suami nyuruh kita mati terjun ke sumur beracun, istri harus nurut! gag boleh enggak.” menurutku, islam gag se-sakleg itu.

yah oke, ceramah semalam juga dibatasi waktu dan tema yang hanya membahas “wanita sholehah”. bukan “wanita sholehah dalam lindungan imam yang baik” jadi pada akhirnya kesimpulannya memberatkan sisi perempuan.

ini bahayanya jadi penceramah yah? karena tidak semua orang yang mendengar ceramahnya bisa menelaah dengan baik, menyaring dan memilahnya (bukan berarti aku menyimpulkan aku bisa). tapi takutnya jadi ada pertentangan seperti yang aku rasa sekarang ini.

pada akhirnya juga niat mereka baik, bukan? dan bukankah kebenaran itu dari si Oom, dan kesalahan adalah mutlak dari manusia?

anyway,

tau kan kalo hidup kadang amat lucu?

selain bahwa ada konsep kalau si Oom itu jago melucu, Maha Lucu, dan kadang eh, sering dink ya…sense of humor NYA bener2 tidak masuk di sense of humor manusia.

gegara hal tersebut jadi semakin gag yakin, gag pede, gag berani untuk bersuara dan menyuarakan keegoisan, keinginan, prinsip whatever it is, you named it lah.

hari ini dihadapkan pada situasi dengan dua pilihan. menjilat ludah atau melepaskan kesempatan.

Tuhan, it will never be easy yak?

YOU will never make it easy for me (us)?

eh, gag boleh gini ya? harus tetap positif thinking dan bersyukur, bukan?

yah, at the end of the day siyh memotivasi diri dengan…”terserah hasilnya bagaimana deyh, mau aku tentang, mau aku inginkan, pada akhirnya yang terbaik yang aku terima. jadi ya… whatever deyh.”

so this afternoon, melepaskan emosi yang berlebihan terhadap satu kasus.

Oom, aku mengistirahatkan koperku lagi yak. silakeun diurus 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: