here, a piece of cake for your sweet tooth

the keyword is all about “komitmen, konsisten, resiko, dewasa, dan bertanggung jawab.”

now, you may think that it’s only from my side or I’m pleading for my own good or in a bigger scheme, I should say women’s pleading, you may say it but don’t you think that it’s a plea for men also?

oknum A: duduk perkaranya seperti ini…. aq nyatakan cinta dgn adik tingkatku sebelum aq jadian ma anak dari kota M.
oknum A: stlh jadian ma anak kota M. aq belum ada kepastian dari adik tingkatku.
oknum A: waktu aq putus ma anak kota M. aq PDKT ma B, dan belum ada kepastian dari A.
oknum A: emank sih aq gak butuh jawaban pasti…hanya saja aq hanya ingin tahu perasaan dia ke aq.
oknum A: dan gk disangka…mereka tidak ada perasaan apa2 terhadapku
oknum A: ada sih…cuma sebagai kakak
oknum A: dan aku beruntung banget….meski kecewa juga sih
oknum A: begitu……

oke, jadi untuk mempermudah pemahaman cerita, ini adalah cerita cinta antara oknum Z dengan cewek A (cewek dari kota M), B, dan C (B & C adalah yunior di kampusnya). he falls in love deeply with B but since B has not responded him yet so he decided to go further with A. unfortunately (um.. unfortunately, rite? or should i say fortunately?), he broke up with A, and still keeping his crush on B and at the same time he tries to make a relationship with C. boy, you really have a busy life out there ya… *mengusap peluh*.

at the end, he still has that thing called “relationship” with A (no matter how suck yet terrible it is) while still maintain his feeling to B and C. and one day, both B and C said, “no, i dont have those special feeling to you. sorry.” to him.

oknum A: jujur aja mbak…ternyata menentukan yang ideal jauh lebih susah ya
oknum A: emank sih aq gk terlalu pusing…krn masih banyak yang dipikirkan
oknum A: tapi cukup telak…..mgnk krn aq dah naruh harapan kali ya
oknum B: Now tell me! If i say something harsh to u, yg bnr2 kejump, is there any possibilities for u to change ur mind seeing thing called relationship??
oknum A: no…i dont think so….

hmm… hmm… find the ideal one, find that soulmate thing. find our prince/princess charming. does it have to go that way?

you are focusing too much to yourself.

yes, we are talking about finding the right one but you are focusing on a different side in seeing this problem. finding that future Mr./Mrs. does not only mean “oke, mari kita berpacaran dan suatu hari semoga kita bisa menikah, amien!” but once you said, “oke!” the commitment, mature behavior, responsibility, consistency in holding it, that follow you.

tindakan seperti cerita ini, having that commitment to a girl while still hoping-dreaming-wishing to another two girls adalah suatu bukti bahwa arti berhubungan, arti memegang komitmen, arti menjaga kepercayaan dan menumbuhkannya belum disadari sepenuhnya, bukan?

oknum A: soalnya ada time travel juga

oknum B: time travel?
oknum A: kejadian itu gak bersamaan….hanya bagian akhirnya aja yang bersamaan…..
oknum A: waktu dan tempatnya berbeda……
oknum B: sebentar
oknum B: waktu antara kamu jadian dengan oknum di kota M dengan waktu kamu ada rasa sama yuniormu, itu duluan si yuniormu bukan?
oknum A: yup
oknum B: tapi ketika kamu SUDAH jadian dengan cewek di kota M, kamu masih tetep menunggu jawaban dari yuniormu, bukan? dalam artian…
oknum B: waktu kamu jadian sama cewek di kota M, kamu masih ngarepin untuk mendapat balasan perasaan dari yuniormu, bukan?
oknum A: yup
oknum B: hmm… hmmm….
oknum B: dan ketika si yunior menjawab dan buat kamu terluka, status kamu masih jadi cowoknya si cewek yang di kota M, bukan?
oknum A: statusku ngambang…..soalnya kemarin ada konflik berkepanjangan
oknum B: ngambang itu maknanya gimana, dhek?
oknum A: hmmm…gimana ya?
oknum A: pokok’e gak jelas lah

hmm… hmm… kenapa tokh masih harus ada excuses di sini? pemahaman atas cerita ini sudah benar kan? jadi kenapa harus mengajukan excuse-excuse (bukan alasan tetapi dalih) sebagai pembenaran atas tindakannya diajukan kepadaku? dan lagi, pada waktu itu aku tidak frontal menyalahkan, bukan? terlalu shock rasanya mendengar cerita ini. and still, you gave me other excuse and other excuse.

oknum B: dalam artian, bagaimanapun juga kalian ada status “berpasangan” walopun sedang bermasalah dan kadang begini kadang begitu, bukan?

nah, i mentioned the main point too. just to make you understand this problem very well and not only focusing on yourself, dear…

oknum A: status “berpasangan”
oknum B: iya, ada apa dengan pernyataan “status berpasangan” tersebut?
oknum B: *keukeuh*
oknum A: iya….berpasangan…emank itu benar
oknum A: meski sekacau apapun…aq masih berpasangan
oknum B: good
oknum B: so?
oknum A: masih ada yang lebih penting dari perasaanku
oknum A: perasaan “pasanganku”
oknum B: well done, dear
oknum B: that is one of the most important thing
oknum B: tapi yang lebih utama adalah…
oknum A: itulah yang membayangiku selama ini
oknum B: kamu berani mengikatkan diri kepada orang lain, meskipun masih sebatas pacaran, dan hubungan kalian bermasalah
oknum B: tapi kamu tidak bisa memegang komitmentmu, dan tidak bisa ngehandle imbas dari tindakanmu untuk memilih berpacaran dengan seseorang tersebut.
oknum B: aku pikir itu hal yang lebih penting dibanding kamu memperhatikan perasaan pasanganmu.


yes, ketika kita memutuskan untuk mengambil pilihan “oke, aku berpacaran dengannya” tapi tetap memegang rasa kagum-senang-berharap-sayang-suka-cinta terhadap oknum lain, bahkan masih menunggu respons perasaan kita kepadanya, bukankah itu berarti we are not strong enough untuk berkomitment dan menjaga hati orang lain? karena menjaga hati diri sendiri aja tidak bisa.

that is the point.

and at this point, do i still plead my self (women)? no? it’s not about men or women tokh?

hmm… our discussion may ended up like that, however, the best that i can do ya only hope aja bahwa ide di kepalaku mengenai cerita ini, apa yang benar dan salah menurutku dalam menyikapi hal ini, sudah tertransfer ke pikiran dan hati tokoh cerita di atas.

karena bagaimanapun, tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar di sini, ini semua mengenai 2 kepala, 2 kacamata, 2 hidup, 2 individu. sebesar apapun persamaan antara ke-2 individu tersebut, masih tetap ada perbedaan di dalamnya. dan aku tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk melihat satu hal dari kacamata yang sama denganku.

bukan begitu, bukan?

mungkin juga penyikapanku sedikit subjektif karena aku belum pernah menyukai sikap tengah-tengah, sikap tidak mau ambil resiko, sikap tidak berani seperti kasus di atas. kupingku pun selalu gatal setiap mendengar cerita-cerita oknum yang “bermain” dengan hati orang dan mengatasnamakannya sebagai tindakan “memilih yang terbaik”, like i’ve said before, “does it have to go that way?”

(uh oh, tau lagunya iwan fals yang “aku bukan pilihan”, bukan?)

er… sedikit bertanya-tanya, kenapa kesimpulan point utama harus datang dari aku? apakah berarti sang tokoh MASIH BELUM mendapat pencerahan?

dan kamu, si tokoh, you may upset or angry to me coz i put your story here (tapi kan sudah ijin tokh?) even though i have tried as best as i can to hide your identity (halah! lebayy 😀 ), just dont stir my effort by pronouncing to the universe who the heck are you, ok?!

well, wish you love deyh…

~~

anyway… yesterday, finally i did this 😉

bukan atas alasan marah atau dendam. takut? iya, takut! 🙂 .

pada akhirnya, memang aku yang membatasi diri sendiri dengan segala kekhawatiran, keraguan, dan ketakutan-ketakutan ini, bukan?

but if i did not do that, rasanya aku berjalan di tepian jurang yang meleng sedikit saja, aku bisa jatuh.

so, yes! i did that! 😀 .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: