i’ll write, soon…

yeap, soon! ๐Ÿ˜›

you know that i lied ๐Ÿ˜€

anyway,

salah satu kriteria untuk bisa menjadi bos (atasan) adalah sikap perfectionist yang proporsional.

begini, pada dasarnya aku adalah sosok yang amat perfectionist (menyangkut hal-hal yang aku kuasai dan aku bertanggung jawab di dalamnya), amat sangat teramat perfectionist. makanya, suatu hal yang sulit aku terima ketika orang lain berusaha ngehandle hal yang judulnya “imas’ responsible” yang aku yakini bisa aku selesaikan sendiri, walopun orang tersebut bertindak atas nama “membantu”.

bahkan ketika aku meng-hand over-kan sebagian kerjaan, karena loading kerjaan yang menumpuk, ke orang lain. yang ada aku malah bekerja dengan tambah tidak tenang, selalu kepikiran sebagian kerjaanku yang dikerjaan orang lain tersebut.

dan semua itu adalah mental bawahan, bukan mental atasan meskipun judulnya sama-sama “perfeksionis”.

sebagai atasan seharusnya penyikapanku seperti ini:

aku bisa membentuk image dan pemahaman berapa standard perfeksionisku di benak orang lain (bawahanku dalam hal ini) and no complain about it.

aku bisa mentransfer ide ke benak semua orang berapa parameter sebuah hasil pekerjaan yang akan aku kasih acungan jempol, dan mana yang aku tendang tanpa periksa.

dan setelah semua itu ter-set di otak dan benak semua orang, ya sudah, aku sebagai atasan sudah bisa lepas tangan (oke, sekali waktu masih harus aku amati lagi), aku tinggal menerima hasil pekerjaan mereka sesempurna yang mereka bisa raih dengan resiko acungan jempolku atau caci makiku. that’s all.

that’s a boss can do.

sementara ke-sempurnaan-ku masih level sempurna sebagai bawahan.

sebagai bawahan, sikap perfectionist tersebut tentunya sangat menguntungkan atasan dan perusahaan (sekarang tinggal dilihat parameter sempurnaku dengan sempurna versi bosku itu beda atau bagaimana), tapi kalo terus menerus sebagai bawahan dengan sikap perfectionist seperti ini, gag bener juga…

harus bisa meminta bantuan orang lain, dan percaya bahwa s/he will do her/his best.

harus bisa nge-hand over-kan sebagian loading kerjaan dan sadar diri bahwa meskipun masih taraf rendah, ada beberapa orang yang wajib bertanggung jawab atas pekerjaannya kepadaku and starting to learn being a boss.

bukan bermaksud diskriminatif dan semakin mempercuram kesenjangan antara atasan dan bawahan siyh tapi itulah beberapa hal yang aku amati akhir-akhir ini.

contoh ya…

seorang yang merasa benar2 dan berjiwa atasan aseli, akan diam dan bergeming melihat staf yang ribet memberdayakan tenaga fisiknya hingga sedikit di luar batas kemampuannya. tidak ada perbedaan jenis kelamin di sini.

sedangkan seseorang atasan yang masih juga punya sedikit jiwa sebagai bawahan, akan tergerak hatinya dan buntutnya jadi bertanggung jawab sepenuhnya untuk memberdayakan tenaga fisiknya supaya pekerjaan bisa terselesaikan. (meskipun mungkin alasannya adalah kasian dan ada pertimbangan kemampuan fisik cowok dan cewek serta juga alasan kesopanan siyh ya ๐Ÿ˜› )

jangan dicampuradukkan dengan alasan rasa kasian dan kemanusiaan lhohย  ya karena aku tidak menelaah hingga dari sisi pandang tersebut.

yah, lagi lagi semuanya balik ke case per case kali yak?

dan kenyataan bahwa pengamatanku ini super duper dangkal dan untuk beberapa kasus kecil saja.

setidaknya i already update this journal ๐Ÿ˜› .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: