kedalaman hati

dalamnya hati, siapa yang tahu?

*paused*

sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada 2 hal yang mau dilebay-lebaykan doeloe 😀

1. jurnal ini sudah berusia 1 tahun lebih 9 hari euy! tepat kemaren pada tanggal 26 Nov, si Green Lemon Tea ini berulang tahun yang pertama.

selamat ya, boy! semoga panjang umur, sehat selalu, semakin cerah ceria, disayang banyak orang, bisa semakin mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bertanah air, amien 😀

apakah kamu akan bernasib sama seperti 2 saudara tuamu yang lain, yang kalau tidak salah kedua-duanya berusia sekitar 2 tahunan saja. kakak pertamamu adalah waktu periode si mas 10 hari, sementara kakak keduamu penuh berisi masa pelepasan emosi dan rasa dari si mas 10 hari dan sangat banyak berisi cerita mengenai mas-yang-namanya-tidak-boleh-disebut-di-sini 😀 .

sementara kamu?

beberapa banyak entry berisi pelepasan emosi dan rasa terhadap mas-yang-namanya-tidak-boleh-disebut-di-sini itu.

tapi boy, sebenernya pingin lebih lama lagi berdansa denganmu sementara kecenderungan untuk akhir-akhir ini justru lebih banyak ke arah “no story, please. no, dont take a picture on me, please. i’m undercover now… ok, ok, you may take a picture of me *sambil berpose senyum 3 jari* 😛

jadi ya, wait and see aja kali yah boy, secara sini juga wanita karier yang sibuk mengurusi para sepupumu yang tertebar di mana-mana 😀

2. ciyeeeee… si wordpress.com tampil beda hari ini euy!

iye, dalem-dalemannya wordpress dan juga google reader, serta gmail juga beda lhoh. jadi semangat gini. mungkin juga akhir-akhir ini tidak aktif mengeluh gegara bosan dengan penampakan wordpress kali yah? makanya begitu ada yang baru jadi bersemangat dan sukses menulis panjang kali lebar sama dengan luas pangkat gag penting banget ini. special case utk gmail, kapan hari mengaktifkan themes gmail yang morning tea (? cuwimii miaw miaw, pokokna yang teh itu da) dan sampai detik ini, sudah beberapa kali loading inbox selalu beresiko memperoleh kata-kata mutiara yang intinya gag semua feature bisa ter-loading dengan baik dan benar kecuali saya mau balik ke theme lama, begono. seru siyh, keren, lutju, tapi jadi sedikit gag wow gegara ada kata-kata mutiara-nya itu 🙂

hna, beklah, mari kita balik ke pertanyaan utama;

dalamnya hati, siapa yang tahu?

siapa coba?

no one tokh?

adalah berbeda parameter, tolak ukur, rules, idealisme, dll, dkk, dsb dari setiap individu. ini satu hal yang nyata, benar, dan there’s nothing you can do to change it, nothing. bisa untuk saling menyesuaikan tapi menyamaratakan? rasanya it took a lifetime effort.

bahkan dalam satu organisasi, sepasang anak kembar, they have their own value for each member/person meskipun secara garis besar mereka seia sekata.

dan complaining about the differences? wasting your time kaleee 🙂

bukankah perbedaan itu indah?

semisal…

windows shopping di sebuah mall, and there is a very pretty gorgeous lady walk in front of us, next to her is the beast (ups! 😛 ). secara penampakan mereka berdua bagai langit dan bumi dilihat dari 10 penjuru mata angin.

bagi mereka yang memegang parameter sisi “penampakan” dalam observing, tentu akan timbul pertanyaan dan pernyataan, “yaoloo, si nona itu kenapa jalan sama si mas itu siyh? rugi banget! she deserves Brad Pitt!”

who knows apa yang membuat dia memutuskan untuk jalan dengan si mas itu yang notabene di mata orang lain adalah sang punguk.

jika parameter “materi” yang dipegang si nona, apa urusan kita?

jika parameter “sifat” yang dilihat si nona, apa pula urusan kita?

it’s a thing that only exist in the heart.

semisal dalam pernikahkan…

tentu ada contoh kasus di mana poin pertimbangan untuk melangkah ke jenjang seserius itu adalah sisi materi, penampakan, sifat, rasa, dll, dsb, dkk. *mencari-cari contoh kasus nyata*

and it’s beyond our imagination tokh? semua pertimbangan itu adalah hal-hal yang bukan urusan orang luar, semua itu adalah urusan dalam negeri masing-masing orang.

mungkin memang yang dilihat adalah materi, “baiklah, saya terima nikahnya karena loe kaya.”

atau rupa, “saya mau banget nikah sama kamu karena kamu cantik.”

atau alasan lainnya.

yang jika orang luar melihatnya, mereka adalah pasangan-enggak-banget (eh, jadi inget lagunya dee yang “malaikat juga tahu”, setidaknya orang luar akan berkomentar “enggak banget” jika melihat orang autis berpasangan dengan orang cantik dan tidak autis, bukan?).

meskipun banyak orang yang bilang bahwa pernikahan dengan alasan duniawi seperti itu adalah 99% bakal berakhir dengan kegagalan.

tapi ya, what can we do? what can we say? pada akhirnya mereka yang memutuskan, memilih, menjalani, dan mempertanggungjawabkannya, bukan?

kecocokan tidak selalu ditemukan dalam persamaan. kadang perbedaan, bahkan yang amat sangat curam pun bisa melahirkan suatu kecocokan yang amat kuat.

bukan begitu wahai kalian yang sudah menikah?

oh tunggu, ini semua ditulis bukan dalam rangka mengkritik orang lain tapi hanya sebatas reminder ke diri sendiri krn lately i already acted so bad by having a very misconception and a very negative thinking about someone’s decision.

karena bagiku, parameter dalam that M thing adalah otak, otak, otak, sifat, kepribadian dan ketika melihat orang yang (mungkin) memakai parameter lain, rasanya “something’s going in the wrong direction nee”

and that is my fault *deep bow*

yah, dont judge the book by its cover, ada benarnya tapi kadang judging the book by its cover pun tak salah dilakukan.

pada akhirnya semua balik pada “balancing”.

baiklah, dimulai dari entry ini, doakeun semangat berkeluh kesah saya balik lagi dengan full power seperti dulu lagi, amien! 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: