Archive for March, 2009

may i?

dear baby blue,
may i put a little pink on you?
only a little on you,
to help you rise and smile.

oalah aguus… agus!

another story to tell…

bukan cerita penting (i’ve warned you lhoh ya)

jadi gini, bu…

rumah orang tuaku di desa, diapit oleh sebuah masjid di sisi baratnya dan sebuah jembatan di sisi timur. jarak antara masjid ke jembatan itu sekitar 500 meter.

antara rumah orang tua ke masjid mostly adalah rumah kosong yang sudah setengah menjelma menjadi kebon tak terawat.

antara rumah orang tua ke arah jembatan penuh berisi rumah-rumah yang padat dan tanpa jeda.

itu semua terletak di pinggir jalan raya yang super rame (karena merupakan jalur alternatif rute madiun – malang).

terbayang tokh? rame lalu lalang kendaraan tapi sepi manusia.

tetep terbayang kan ya?

aku tau “dunia lain” itu ada, dan dari jaman kuda gigit besi dulu pun sudah sering terdengar cerita ini itu. i know dan gag komplain.

hingga beberapa hari yang lalu…

“ya memang ada, daerah kuasanya dari masjid hingga jembatan timur itu. bukan jenisnya jin tapi gendruwo. kalau mau siyh bukan diusir tapi dipindah rutenya.”

eh bo’! gag perlu dibilang sejelas itu mah sini udah ngerasa banget ada “sesuatu” yang hobi nemenin kita di situ. “sesuatu” yang so far masih sebatas usil, iseng, hobi becanda gag jelas, hobi “bersuara” gag jelas pula…

dimulai dengan kenyataan bahwa semua orang penghuni rumahku (kecuali aku, dan gag minta!) yang pernah melihat (selalu dikasih lihat dari sudut pandang mata yang minim dan gag terlalu jelas) di rumah sisi depan dan mondar-mandir dari kamar tidur barat ke kamar tidur timur.

dimulai dengan kenyataan bahwa setiap kami memerlukan sesuatu yang pada saat itu bener-bener urgent dan mendadak barang tersebut gag tau di mana padahal kemaren di tempat A yang lalu keesokan harinya mendadak barang tersebut tergeletak dengan manisnya di tempat A (yang sudah berulang kali ditelusuri).

dimulai dengan kenyataan bahwa hampir semua tetangga kami (tetangga belakang rumah) pernah “ditemui” sosok tinggi besar berbaju putih rambut panjang yang mendadak menghilang masuk menembus tembok rumah kami dari arah barat.

dimulai dengan suara-suara berisik gag jelas setiap malam ketika masih ada yang begadang.

dimulai dengan kenyataan bahwa 2 keponakansku pernah nangis gag berhenti-henti dan baru berhenti begitu dibacakan ayat kursi.

dimulai dengan merinding disco setiap di rumah sendirian di malam hari dan dengan sok beraninya berkutat di area rumah yang bagian depan.

dimulai dengan riak-riak gag jelas di bak kamar mandi pas malam hari.

hna… sudah cukup bukan bukti-buktinya? ndak perlu diperjelas begitu donk…

trus ditambahi dengan pandangan mata yang mendadak terfokus ke satu arah dan memberi kesan ada “sesuatu” yang sedang “ada di tempat itu padahal gag ada siapapun yang terlihat mata manusiaku.

oalah aguuuusss… agus…

demi toutatis! :D

hihihihihihihi… iseng ah 😀 *deep bow to masbro untuk info situs di bawah ini* dari http://www.ki-demang.com saingannya primbon tapi minus iklan-iklan gag jelas itu 🙂

Perwatakan Weton


1. Dino : Sêtu
Membuat orang merasa senang, susah ditebak.
2. Pasaran : Kliwon
Pandai bicara dan bergaul, periang, ambisius, urakan, kurang bisa membalas budi, setia pada janji, ceroboh memilih makanan, banyak selamat dan doanya.
3. Padewan : Rudrå

4. Sadwara : Tunglé
( Daun ) Bertanggung jawab namun suka membantah.
5. Padangon : Tulus
( Air )Tekun, dermawan, dikagumi, lemah lembut.
6. Pancasuda : Tunggak Sêmi
Rejekinya selalu ada, akan habis tetapi mendapatkan lagi.
7. Rakam : Sanggar Waringin
Teduh hatinya, suka memberi perlindungan.
8. Paarasan : Lakuning Bumi
Melindungi, mengasuh, sabar, mengalah.

a-shorty-short-story-of-this-day

dua manusia duduk berdampingan di bangku di depan kios rokok yang masih blom buka di sebuah terminal bis bayangan.

satu orang dengan mimik muka serius yang membayang kegelisahan dan sikap yang tidak tenang. mulut yang tidak berhenti membuka dan menutup tanpa sepatah katapun yang terucap.

satu sosok lainnya yang hanya diam menunggu sambil mengamati sosok yang terlihat sangat gelisah.

“kenapa? lagi mikir apa?”

“enggak. er… gag ada kok.”

“enggak ada. enggak ada??”

beberapa menit pun berlalu dalam diam dan satu sosok yang tetap sabar menanti adanya suatu pertanyaan dan pernyataan.

“mas, jangan ketawa ya? aku sedang berpikir tentang ~itu~ “

“haa? itu? itu apa?”

“mas tau, itu?  that thing!”

“itu?”

“aduuh, itu…”

“oh, maksud adik ~itu~?”

“iya, ~itu~…aku takut.”

” 🙂 , kenapa takut? kuncinya cuma satu, adik percaya sama mas. dan ndak mungkin mas tidak mendengarkan adik. trust me, ok?”

“sungguh, itu aja?”

“iya, gag usah dipikir dan khawatir. mas tau apa yang harus mas lakukan, jadi percaya sama mas. ~itu~ kan ada ilmunya sendiri, adik. mas tau kok.”

“bener ya?”

“iya, 🙂 “, lembut mas mengecup ubun-ubun, menenangkanku.