Posts Tagged ‘poems; heart’

a note to a bestfriend ;)

+ jeng, gag adil sekali semua ini? jika hidup saja sudah berat, kenapa masih saja diciptakan orang jahat?

– *piyuk-piyuk seorang sahabat yang menangis sedih semalam* let’s do a voodoo on him ๐Ÿ™‚

kadang kulihat sayapmu tergeletak lemah

bukan patah, hanya tersayat

(dan katamu, untuk menyembuhkannya harus dengan air suci rebusan dari mutiara murni yang hanya ada di puncak gunung himalaya, bukan? ๐Ÿ™‚ )

tapi tersayat kecil sajapun sudah sakit, aku tau pasti hal itu

pada saat itu,

sudahlah, jangan kamu paksakan untuk mengepakkan sayapmu

tidak perlu berusaha hingga mati untuk terbang tinggi

langit bukanlah segalanya

sepasang sayap pun bukanlah satu-satunya

menunduklah,

lihat pijakan kakimu yang kuat dan mantab.

kamu berjalan kaki pun matahari tetap bersinar cerah menyapamu

kamu berlari pun angin akan selalu bisa membelaimu

satu yang pasti, jangan berhenti di satu titik.

jalan setapak selalu ada dan tercipta

bias cahaya pun selalu menjerat semangatmu

kamu tahu itu.

gelap

jauh sebelum malam benar-benar pekat

lampu telah dinyalakan.

dan sadarkah kamu bahwa kepekatan malam berbanding lurus dengan cahaya lampu

semakin pekat malammu, semakin terang cahaya lampumu

well, ok, it’s an artificial lights but it is still a light, right?

so why do you afraid of darkness?

kunang-kunang pun semakin terlihat indah dan terang ketika malam semakin gulita.

sebelum beranjak

jejak kaki sadari jejak langkah yang terukir, dengarlah gaungan janji yang terucap bahwa aku akan menemanimu. meskipun angin dingin menusuk tulangku dan hujan menyamarkan jejakmu. akan selalu aku temani hingga bintang terakhir redup dan meninggalkanmu, hingga bait terakhir puisi ini.

akan selalu aku temani.

*pic dari sini, tengkyu ๐Ÿ™‚

yeah, we will.

Heart, we will forget him,
You and I, tonight!
You must forget the warmth he gave,
I will forget the light.

When you have done pray tell me,
Then I, my thoughts, will dim.
Haste! โ€˜lest while youโ€™re lagging
I may remember him!

(Heart, We will Forget Him by Emily Dickinson)

~~

dari suara si mas, rasanya dia sedikit kaget dan berbumbu marah atas pengakuanku semalam.

walopun di akhir diskusi dan obrolan, dia tau untuk menempatkan diri sebagai sosok yang using his logic instead of heart because that would be me who’s using heart instead of brain. dan dia bilang, “waktu itu gag akan lama, kan? dan kamu akan datang ke aku? sekarang cuma fase seperti yang kamu bilang untuk menyelesaikan urusanmu tersebut?”

dan dia juga bilang, “rasanya malam ini aku paham atas konsep unconditional love. ketika aku merasa sudah cukup mengenalmu dan karenanya ketika sekarang kamu bilang butuh waktu untuk dealing dengan masa lalumu tersebut aku tahu aku tidak perlu memberikan porsi berlebihan di otak dan hatiku untuk merasa ketakutan akan kehilangan kamu, ditinggalkan oleh kamu, ataupun menderita karena kamu. i believe in you, so it’s ok.”

pada awalnya, suaranya berasa agak bergetar, ada emosi yang ditahan tapi ketika dia membicarakan konsepnya tentang unconditional love tersebut, suaranya luar biasa tenang dan tidak menuntut apapun.

so sweet…

i promise, mas… i promise.

menunggu hujan

yang deras!

bukan gerimis bergemericik,

badai!

asal tidak mengamuk,

untuk melarutkan hitam dalam gelas hitam

membasuh gelap dalam merah

dan tidak menyisakan satu ruang kecil untuk kenangan

bahkan seikat rumput pun tidak terselamatkan

rumput penyemat masa lalu yang selalu tumbuh

hujan yang deras, sekalian badai pun akan aku terima

hingga basah kuyup tubuh ini

menembus kulit, daging dan mendekap hatiku

meluruhkan segala rasa dan asa

tanpa sedikitpun ruang untuk melamun dan menyelamatkan masa lalu

tanpa secercahpun cahaya untuk menoleh

hanya lari dan lari

dingin

kuyup

tanpa masa lalu

tanpa kamu

hanya aku

hujan dan jalan di depan.

bukan gerimis

yang selalu memberi asa dan waktu untuk duduk termangu

dan menyapa masa lalu

jangan gerimis,

badai saja sekalian.

~