Posts Tagged ‘poems’

shiny blue sky

shiny blue sky, drifted off in my eyes

with a soft-warm-breeze, capture my breath away

taping and tickling in my ears

is the sound of a soft… um…whistle

at first,

i thought it was,

a footsteps of a bare foot tapping and echoing softly

and i feel so absurb

that it could be a clapping hands

or a child, crying softly

the truth is,

it just a wind blow

i thought there will be no secret anymore between me and the universe

but he keep pretending to me

that it’s a footsteps of an angel,

sometimes sound like a happy clapping hands,

or a crying child

for the truth, it’s just a wind blow softly embracing me

and my world.

selama masih ada waktu

saat burung berkicau

aku berjingkat sembari menari

ketika matahari bercahaya

tak lupa aku menengadah dan menantangnya

lalu angin pun bersiut

dan aku merentangkan kedua tanganku

kemudian bunga pun bergoyang

di sini aku masih tersenyum

dan kalau kegelapan merambat menyapaku

akan kurengkuh dengan mata tertutup

selama masih ada waktu

pelangi

pada pelangi yang dipinjamkan oleh para bidadari untuk sejenak kita nikmati

apa yang kamu harapkan?

setelah menelusuri dan mengagumi jalinan rona warna indahnya, untuk akhirnya tiba di ujungnya…

apa yang kamu harapkan akan kamu temukan di ujung pelangi tersebut?

apa yang kamu harapkan untuk menyambutmu?

Saṃsara

senja selalu menyapa

tak peduli

dulu kamu adalah kejora lalu menjadi bulan

aku, melayang menjadi udara

dulu kamu adalah matahari yang terbit dan terbenam

aku, tetap melayang menjadi udara

dan ketika kamu menjadi angin?

gundahku hanya berujung harap

Saṃsara dan kekal menjadi waktu

untuk menjaga rasa dan rinduku padamu

~

Saṃsara: sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. (demikian keterangan dari Wikipedia Indonesia)

ketahuan

kaki kecil menapak merencah

satu dua lima tujuh pasang kaki

sebentar berhenti lalu berjingkat

tetap merencah

siulan pelan penanda diri

siul di sini

jawab di sana

pelan, langkah melingkar

lalu suara mengikik

tetap langkah merencah semakin teratur

lalu…

“di situ… ketahuan!”

semburat semua berlari menghindar

~~

saya capek *sigh*

ketika hujan

setetes demi setetes menyapa helai daun

satu, dua, tiga tetes hingga tak terhitung

mengalir, mengalun menyusuri setiap urat yang tersedia

hingga akhirnya berjatuhan menyapa tanah

meresap, merembes, menyusuri setiap jalan yang tersedia

menuju ke hati

lalu berdiam dan bertahan di sana.

~~

*untuk si mas yang menyapa dengan lugunya dan berucap, “kotaku hujan deras siang ini. kapan maen ke kotaku? segera, bukan?”… kotaku panas menyengat, mas…dan ya, segera aku akan ke sana 🙂 *

abu-abu

jika rindumu menjadi abu-abu

ijinkan aku menabur hujan

biar padam bara itu

dan merekah bunga indah

~~

tidak, tidak… sini tidak sedang jatuh cinta 🙂

*waving ke si ibu yang menyimpulkan ada yang sedang jatuh cinta*